Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2017

Bagiku, Cinta ...

"Jika nanti kita bertemu kembali, aku ingin melamarmu dan memintamu untuk menjadi istriku"
Itu adalah ucapan terakhir dia diwaktu terakhir kami bertemu. Aku menghantarkan ia pergi dengan isak hati yang menenggelamkan penglihatanku. Aku mencoba iklas ketika ia mengusap air mataku. Aku mencoba bersabar ketika ia memelukku sebelum beberapa langkah ia meninggalkanku.
Hari ini, sudah hampir 1tahun berlalu ucapan dan suasananya. Aku masih hanyut bersama keheningan disana, di bandara soekarno hatta. Rasanya saat itu aku enggan beranjak dan menunggunya pulang kembali tanpa menghitung hari.
Jika ditanya, aku merasa bahagia atau tidak sejak itu, aku merasa tidak yakin dengan jawabanku. Menimbang dengan suasa yg aku nantikan.
Aku tidak pernah mencoba untuk diam dalam suasana ini.
Aku tau dimana waktu aku harus mengingatkan "jangan lupa shalat masa depanku :')" - "kamu harus makan syg, disana baik-baik dan tepati janjimu"
Aku slalu mencoba mengirim bbm yang untuk deliv saja susah bagaimana mungkin huruf d dilayar berubah menjadi r?
Tapi dari sini aku mengambil titik kedewasaan "mengerti". "Oh, mungkin dia sdg sibuk"
Tak jarang, aku juga akan mengirim beberapa sms untuk menanyakan hal-hal tak penting kepadanya.
Tapi dari sini lagi aku mencoba mengambil titik kedewasaan "oh, mungkin ia blm bisa diganggu"
Itu aku.
Tapi ini, bagaimana? Dalam 1tahun itu saja yang bisa aku lakukan.
Pernah, saat itu aku baru terjaga. Mencoba mengecek kotak masuk dan sebuah sms masuk dengan sedikit kalimat tak berurai.
"Selamat pagi wanita yg akan kunikahi"
Sontak aku langsung membalas pesan itu dan menunggu. Tapi suasana tak berpihak. Aku tidak mendapatkan telfon, sms balik, atau kabar lagi. Iya, sampai saat ini.
Aku mencoba menahan nafsu amarah yg menggerutu difikiranku. Aku sendiri, tanpa ada yg mendengarkan amarahku.
Kepada siapa aku akan bercerita?
aku bukan tipe orang yg tak ingin berbagi dan menerima kata orang, tapi untuk sebuah kesedihan, rasanya tidak tega membagi ini kepada teman.
Fariza, teman sekelasku pernah menyampaikan bahwa "nis, kamu ga perlu mempersulit hati kamu. Skrg apa yg buat kamu pusing dan kyk org linglung begini? Bukannya kamu pernah bilang bahwa kamu percaya dengan dia yg akan menjadi masa depanmu? Kan kamu yg bilang, bahwa cinta butuh keyakinan yg kuat!"
Iya, memang benar. Cinta butuh keyakinan yg kuat. Skrg aku yakin, dan cinta. Tapi aku butuh sedikit waktunya, tidak harus untuk menanyakan kabarku. Cukup menyapa atau bila memang sibuk aku harap ia bisa mengirim sebuah teks kosong ke handphoneku.
Kini, aku hanya bisa mempercayai kepada tuhan yg maha tahu, dan ia..
Mengingat janjinya, aku percaya bahwa menunggu adalah nilai bagaimana besar cintaku kepadanya.
----
Ntah sudah berapa lama aku berdiri dalam keheningan ruang yg sepi dan cukup membuat aku tersudut.
Ditemani bayang, kadang mimpi ia datang.
Aku mampu berdoa untuknya, aku mencintainya, dan aku persembahkan waktuku untuk menunggu.
Waktu mungkin bisa berganti, tapi hati tak akan memilih. Tahun bisa habis dengan pergantian jam di tahun berikutnya, tapi dia tidak akan habis dilewati waktu.
Rasa yg aku miliki dari awal aku miliki adalah sama, sampai rasa dimana ketika ia menemui waktu untuk meninggalkanku.
4tahun berlalu ~
Hari itu aku bertemu dengan seorang teman lamaku, ia teman SMAku.
Gentry, ia sempat menanyakan dia kepadaku. "Aku menunggu gen"
"Menunggu? Maksud mu?" Tanyanya dengan muka penuh kebingungan.
"Aku menunggu ia kembali. Datang tanpa kabar dan pergi untuk bersamaku"
"Kau mungkin bisa sabar dengan rasa menunggumu. Tapi kau mgkn blm bisa sadar dengan bagaimana ia terhadapmu"
"Aku mencintainya gen"
Disana suasana hening, gentry mengeluarkan handphonenya, dan sebuah kertas yg dibentuk seperti cover buku.
"Dika!!!" Aku menangis tanpa perlahan. Aku merasakan bahwa aku lupa untuk bernafas.
"Tapi 3tahun yg lalu. Ia pernah mengirim pesan singkat kepadaku gen! Ia mengucapkan selamat pagi dan mengulang janjinya tempo itu"
Gentry tersenyum, ia mendekatiku. Ia berubah, seperti bukan gentry yg kulihat. Dari matanya ia menatap mataku dengan cara yg perlahan dan dalam.
"Anisa, kau adalah wanita yg jauh lebih baik dr yg ia pilih. Dan dika, adalah lelaki yg jauh lebih bodoh dari aku yg memilihmu. Janji bukan akhir dari semua, janji bukan sebuah takdir yg sudah pasti akan terjadi. Itu hanya rencana dan keinginan manusia. Saat itu. Kau tidak pernah tau bagaimana cara ia menjauh darimu"
"Ia tidak mengjauh gen. Ia hanya menjalankan tugasnya terlebih dahulu. Setelah semua selesai ia akan datang tanpa kabar dan kembali untuk bersamaku!"
"Kau percaya keajaiban?"
Aku menunduk dan mencoba menahan tangisan.
"Lebih ajaibkah bukan? Ia berjanji akan menikahimu ketika ia pulang. Lalu ia tak pernah mengirim pesan atau kabar kepadamu. Lalu kini? Ia meminta wanita lain untuk dipersuntingnya. Kau wanita yg indah. Yg tidak pantas untuk menangisi lelaki yg tak pernah perduli dengan air matamu. Salah jika ada orang lain selain ia mengagumimu? Yg menggantikan ia untuk membuatmu lebih nyaman?"
"Maksudmu?" Aku menatap wajah ghentry dengan penuh keheranan.
"Aku yg slama ini mencoba menjadi dia yg kau cinta dan kau tunggu. Meski tak pernah disadari aku menghargai bahwa kau blm bisa membuka hati dan fikiran terhadap org lain. Dalam jangka 5tahun aku menyimpan rasa terhadapmu"
Gentry memelukku dengan erat, mengusap kepalaku dan mencium keningku.
Dalam suasana itu aku tenggelam. Dan mendapatkan sebuah titik kedewasaan kembali.
*seharusnya selama ini tidak ada salahnya aku melihat disekitar. Untuk berbagi tidak pernah salah. Seharusnya aku bisa lebih memilih orang yg lebih dewasa dalam mencintaiku, bukan untuk mempermainkan perasaanku. Kita tidak pernah tau bahwa sebuah keajaiban yg Allah berikan itu baik atau tidak. Yg pasti hasilnya adalah resiko yg kita ambil. Jatuh cinta karena terbiasa lebih bisa memahami kita dibanding dalam sekejab dan diminta bersama tanpa alasan*
Nia Annisa

Penantian dibagian Halte

Subuh ini aku mulai menulis kembali. Berani menyita semua waktu tidurku untuk menceritakan kembali tentangmu disana. Aku, saat ini merasakan bahwa kehadiranmu sungguh ada dan duduk disampingku. Memberikan sedikit cibiran khas, menyipitkan mata, dan tertawa ntah kenapa. Tapi rasanya aneh jika bayangan ku itu harus bergelut dengan kenyataan bahwa kau, ada disana bersama wanita lain, duduk dan bercanda manis dengannya.
Membelai rambutnya hingga aku merasa bahwa aku sangat kesal, aku harus melihat ini dan menerimanya. Aku harus menahan sakit walaupun aku tidak dihiraukan. Sebagai penonton seharusnya aku mampu menangisi apa yang aku lihat. Karena kalian tidak akan perduli.

Begini atau bagaimanapun aku.

Rasanya hari tanpa membicarakanmu tak wajar. Rasanya tanpa bergelut dengan laptop setiap waktu tanpa memperbincangkanmu juga tak wajar. Kamu bukan sebagian dari hidupku lagi. Tapi kamu masih bagian dari hatiku. Apa kau ingat saat aku memilih untuk pergi meninggalkanmu di halte bus itu? Seharusnya hari itu duduk disampingmu. Melewati beberapa menit yang akan berlalu sebelum aku menginjakkan kaki dirumah dan memulai beberapa jam hingga malam tanpamu. Tapi aku juga tidak mampu untuk bersamamu berjam-jam di bus itu dengan wanita lain. Wanita yang lebih dari biasanya aku lihat. Dia bukan teman kita, mengapa kamu harus mengenalnya? Dan kenapa kamu harus mengenalinya padaku?

Setelah hari aku memulai untuk pulang sendiri itu aku sadar. Bahwa aku mencintaimu, aku cemburu. Tapi aku salah, kenapa aku harus menaruh hati padamu? Pada orang yang jelas-jelas juga tidak mencintaiku. Mungkin.

Dihari berikutnya, aku merasa enggan meninggalkan halte itu. Banyak cerita yang kita parut dan habiskan bersama. Walaupun dalam jangka yang pelan dan sebentar. Rasanya tidak tega kepada halte yang sudah baik mau memberikan aku tempat untuk mencintaimu, memperhatikanmu secara diam-diam dan sekarang malah ku tinggalkan begini saja? Aku tidak ingin menjadi orang yang berbeda setelah sesuatu berubah sepertimu. Sejak kau mengenalnya kau hanya akan berfikir bagaimana menghabiskan waktu untuk hanya sekedar melambaikan tangan pada wanita berkaca mata itu?

Kamu belum tau rasanya aku ketika kamu menanyakan, “aku harus pakai alasan apa lagi ya untuk menemui Kristin nanti?”.

Oh jadi nama wanita berkaca mata itu Kristin, baiklah sekarang aku hanya ingin menemui wanita itu dan menjabat tangannya. Memberikan ucapan terima kasih karena sudah menjadi media lain untuk zain merasakan kenyamanan.

Perasaan tak terbalaskan itu tidak ada gunanya. Bagi semua orang yang merasakan ini. Aku susah payah menunggumu hanya untuk pulang bergandengan, sedangkan kamu berlari mencari wanita itu. Lalu aku bisa apa? Halte itu kusam, tanpa aku dan kamu seperti biasa. Tanpa kita yang perduli dengannya. Membersihkannya dengan canda tawa yang meledak. Sengaja kita ledakkan.

Diantara kekecewaan yang aku rasakan ini, apakah kamu tak pernah ingin bertanya “hari apa yan paling membuatmu kesal dil? Apakah ada?” dari dulu aku menunggu pertanyaan itu.
Dan aku ingin menjawab dengan nada lantang dan tegas…

Ada! Apa kamu ingat saat pulang sekolah kamu menawarkanku untuk pulang bersama seperti biasa dan bilang bahwa “aku kangen loh waktu-waktu kita pulang bareng kayak dulu”.

Disana, mungkin karena cintaku ini terlalu lembut, sehingga mampu kamu mainkan dengan perbincangan anak-anak. Perbincangan laki-laki yang hanya ingin menyakiti dan memakai kata “kangen”. Aku juga merindukanmu, lalu aku bisa apa ketika kamu berbicara itu? Jelas aku menerima tawaranmu. Ternyata, bukan hanya tawaran itu yang kamu suguhkan, kamu juga bilang “hari ini aku mau ngajakin kamu makan dil. Maukan?”

Wanita mana yang ingin menyia-nyiakan rasa kebersamaan yang akhir-akhir ini hampir punah karena dengan adanya orang lain diantara mereka? Jelas saja aku menerimanya. Siang itu kamu juga membawaku untuk pergi kesebuah café pilihanmu. Aku mengikut saja, asal adanya kamu aku akan merasakan semuanya baik.

Tapi aku merasa ingin pergi dengan tangisan ketika aku melihat dimeja sana, dimeja yang tertera angka 11 itu ada wanita berkaca mata yang selama ini aku benci.

Kristin, kenapa wanita itu sudah pindah habitat kesini? Sengaja ingin mencemburui ku?

Tampaknya ia melambaikan tangan kepada zain, benar sudah kan apa yang aku bilang? Datang kesini hanya akan membuat akumati dalam kecemburuan hanyut dalam penyesalan.

“kita duduk di meja 11 zain?” kataku dengan menyembunyikan rasa kesalku.
“iya, kita makan bareng Kristin. Tadi dia minta aku ngajak kamu” jawabmu sambil tersenyum.

Dia minta aku ngajak kamu? Sebenarnya kehadiranku lebih tidak diinginkan oleh zain ternyata. Ia hanya terpaksa dengan alsan kasihan mungkin. Duduk disana, di meja 11. Berhadapan dengan Kristin, wanita berkaca mata berkulit putih dan sipit itu, iya memang berkesan wanita cina. Tapi aku tidak mungkin memakai alasan “aku kebelakang sebentar ya…” toh nantinya juga aku akan kembali dimeja itu.

Agak terjepit dengan rasa cemburu juga ketika kamu dan dia memilih menu secara bersamaan dan menu yang sama. Melihat itu selera makanku hilang, sudah kenyang dengan senyuman pahit mereka berdua. Memangnya jika aku marah semuanya akan berada pada posisi yang aku inginkan? Tidakkan? Lebih baik diam. Mungkin pilihan yang menyakitkan, tapi lebih baik begitu.

Kamu beranjak pergi ntah kemana, wanita berkaca mata itu mendekatiku. Ia sedikit tersenyum lalu menunduk. Kemudian menatap ku, “kamu cemburu?” katanya.

Ah tuhan, terbacakah semua yang aku lakukan ini? Terbacakah semua dari sorotan mata ini?

Perih. Aku bersikap cuek, mengenal wanita ini tidak pernah aku inginkan. Duduk makan siang bersamanya dan melihat ia menatapku dengan penuh keseriusan ini juga tak pernah kubayangkan.

Lagi, ia tersenyum melihatku.

Ia menggenggam tanganku penuh rasa sahabat.
“jangan cemburu hingga membenciku begitu. Aku tidak mencintainya dil…” semua berubah. Aku diam dia tertawa, aku mulai berfikir bahwa aku ingin membunuhnya jika ia berbohong. “jangan menatapku seperti ingin membunuh begitu, aku tidak mencintainya dil..” lanjutnya lembut.
“Selama ini kami dekat, kami ini adalah tetangga. Dan lebih dekatnya kami adalah sepupu jauh, kami baru beberapa kali bertemu dan sepertinya memang kami cocok.” Cocok? Sakit. “bukan cocok sebagaimana kamu dan zain, tapi kami memang cocok untuk sharing. Selama ini kami memang banyak bersama, itu karena sesuatu yang pantas kamu dapatkan. Jangan takut kehilangan dia” jelasnya.

Melihat itu, aku berani untuk menjelaskan…
“aku sudah lama menunggu zain, bukan sebentar tapi dalam waktu yang lama. Itungan tahun, dari SD juga aku menyukainya, tapi aku belum berani untuk menegaskan bahwa aku mencintainya. Seiring waktu, kami juga selalu dapat sekolah yang sama aku mulai berani untuk jujur terhadap hari-hari ku, bahwa aku hampa tanpa zain. Aku belum pernah ingin mengubur rasaku kepadanya hidup-hidup. Tapi rasa ini tidak pernah mati, tapi setelah melihat kalian aku ingin mematikan ini semua.” Rasanya tidak salah jika aku menangis dalam kepasrahan. Aku juga sudah jujur semuanya.

“aku juga sudah lama. Tapi hari ini aku ingin menghidupkan lagi semuanya dil” suara lelaki. Ini bukan Kristin yang berbicara. Suaranya dekat dan sangat dekat dengan telingaku, ia berbisik. “hari ini, ingat saja di meja nomor 11 tanggal 11. Aku ingin memberikanmu kado, mengganti ketidak hadiranku malam kemarin untuk menyiapkan hari ini.” Suaranya tegas berdiri dibelakangku.

Aku tidak berani untuk menengok kebelakang, aku belum sanggup menjadi orang yang sangat bodoh ketika tahu itu hanya bayangan saja. Tapi tunggu, aku belum pernah membayangkan ini. Lalu ia memegang pundakku mencubit bahuku dan membalikkan badanku. Sakit ..

“maf aku mencubitmu, aku hanya ingin membangunkanmu dan berbicara bahwa ini bukan bayangan ini aku zain yang juga sudah bertahun-tahun bersama mu dan bersama perasaan kita. Aku mencintaimu dil.”

Aku bisa apa ketika kau membalas perasaanku dengan begitu tegas?  Aku bisa menangis dalam kebodohan. Kecemburuan bukan berarti masalah untuk suatu hubungan yang aku inginkan. Tapi bagaimana caranya menunggu dan saling meyakinkan bahwa kita sama, kita satu dan akan datang waktunya untuk kembali menyempurnaan perasaan kita dengan suatu hubungan. Jangan berfikir bahwa kita menunggu itu sendiri, jika dia belum mampu membalas setidaknya kita menunggu berdua dengan perasaan murni ini untuknya. Dan ya mungkin seperti ini, tanpa kita sadari .. kita saling menunggu dalam kebisuan. Indah ….

Nia Annisa

Sebungkus Perasaan Untuk Sahabat Wanita

Tadi siang, disekolah aku memperhatikan seorang wanita berpipi chubby itu. Dia menari dihadapan banyak orang, dia kurang tersenyum dalam setiap langkah yang ia tap, tap, tap kan di lapangan. Ia juga lebih tampak cantik dengan polesan make up tipis di wajahnya. Aku merasakan sebuah kerinduan, juga cinta yang sudah lama aku miliki untuknya. Sahabat, wanita. Dulu aku tidak pernah terbayang bahwa aku akan dekat sekali dengan wanita ini. Lucu, kami sudah saling kenal lama. Tapi sayangnya, kami dekat dan benar-benar saling mengenal baru 2tahun ini.
Kami dekat sejak kami memilih tempat bimbel yang sama. Dari sana juga aku mencoba mengenalnya. Anaknya baik, manis. Namun seiring waktu, kami selesai pada jenjang menengah pertama ini. Namun, Aku memilih melanjutkan study kesebuah daerah dingin di Jawa Barat, kuningan. Sedangkan ia? Ia masih di kota raflesia ini.
Aku jadi ingat waktu kelulusan dan pengumuman hasil UN. Ia menangis sejadi-jadinya karena nilainya tidak memuaskan dan tidak mampu menembus SMA yang ia inginkan. Disana, didepan perpustakaan aku memeluknya, mencoba menenangkan dan memberi semangat untuknya. Tapi ia malah meronta-ronta dan bilang “kamu enak, kamu sudah mendapatkan SMA yang kamu mau, tapi aku? Aku bisa kemana dengan nilai ini?.” Aku masih membujuknya dan mencoba menenangkannya. Lalu setelah ia lebih merasa tenang, aku mengajaknya pulang dan pergi ke tempat bimbel kami. Ia menolak, aku melihat persis kekecewaan yang ia rasakan saat itu. Haha, ia akan lebih terlihat manis ketika menangis.
Setelah mempersiapkan semuanya, aku siap terbang menjadi anak rantauan saat itu. Namun 2hari sebelumnya aku sempat menghabiskan 1hari penuh dengannya, kami benar-benar lepas menikmati hari dan siap untuk melanjutkan langkah lagi. Yang membuat aku menjadi terharu setelah kami melewati seharian penuh itu. Ia pulang, dan aku pulang. Mungkin baru saja menaikkan badannya ke sebuah angkot itu sebuah pesan baru masuk ke handphoneku. Ia mengatakan…
“icha, makasi ya. Jujur dari tadi aku nahan nangis. Maaf nggak bisa nganterin kamu besok …..
Ia menghabiskan 1halaman full pesan. Ya tuhan, ternyata sahabat yang manis adalah sahabat yang mampu memperoleh air mataku.
Setelah 1bulan di asrama akhirnya kami mendapat jadwal liburan selama 3minggu. Pada perpulangan itu dia juga tidak bisa menjemputku di bandara. Tapi besoknya, dia langsung datang dan menemuiku dirumah. Jarak rumah kami tentu tidak dekat, ia harus menempuh waktu selama 1jam. Dan bayangkan harus memainkan gas motor selama itu sendiri.
Datang dan duduk dengan manis. Sebelum pulang, wanita itu memberikan sebuah bingkisan. “ini.” Katanya. “kado buat kamu.” Lanjutnya. Sebuah boneka emotion hug yellow.
3minggu bukan waktu yang lama kan?
Aku juga harus kembali pulang ke sekolah lagi. Siang itu dibandara dia datang. “ayo nak, masuk” ayah menyeru dari dekat pintu bandara. Wanita itu malah menggenggam tanganku, titik air mata sudah melambung dimatanya. Aku juga merasa terharu harus kembali pulang, sampai dengan paksa aku harus melepasnya dan melambaikan tangan. Beradu isak tangis serta rindu yang harus bertahan selama berbulan-bulan kedepan untuk sahabat ini.
Berbulan-bulan disana membuat aku semakin memikirkan orang tua, terutama bunda. Bunda pun begitu, dan ntah fikiran dan pembicaraan mengarah kepada pindah sekolah.
Habislah waktu 1semester disana. Bunda menanyakan “lalu, mau masuk mana kamu?” awalnya aku memilih untuk ke sebuah SMA Negeri yang 1kawasan dengan SMP ku dulu. Namun bunda dan ayah menolak. Kebetulan hari itu seorang wanita manis singgah kerumah. Awalnya bunda sudah menawarkan untuk pindah ke sebuah Madrasah, namun aku masih memikirkan semuanya dahulu. “kayaknya ica bakal 1sekolah sama kamu deh!” kata bunda kepada wanita itu. Dengan bersemangat ia menjawab “iya buk, iya. Beneran kan?”
Melihat sahabat yang menerima baik rencana itu aku semakin ingin menerima tawaran bunda pula. Setelah semuanya diurus, aku resmi menjadi seorang murid dan kembali 1sekolah dengan wanita itu. Ia memintaku untuk memilih 1kelas dengannya.
Hari itu aku merasa terlahir sebagai anak baru SMA lagi. Semua harus aku kenali lagi, harus mencicipi keberanian lain disana. Melihat kondisi. Minimal bisa berinteraksi dengan baik lagi. Namun bagaimana kondisi dengan wanita itu? Kami duduk dengan jarak yang dekat. Beberapa hari awal masuk aku masih dengannya. Namun setelah itu semuanya berbeda, merasa terhalang dengan kehadiran pihak segerombolannya yang jelas saja dari muka mereka sudah tidak menyukaiku. Terutama wanita bernama hana itu, dia duduk disamping sahabatku.
Di sebuah persahabatan ada juga yang namanya segitiga? Iya. Aku baru tau itu ketika aku tau bahwa hana tidak mau wanita itu dekat denganku. Mau bagaimana? Kami sudah dekat sejak lama. Lebih lama dari mereka dekat tapi lagaknya mematikan. Sampai yang membuat aku kecewa dengan wanita manis itu ketika ia mengirim sebuah pesan “maaf ca, kita harus menjauh sementara” itu artinya apa? Jelas artinya bahwa ia memilih menjauhiku dibanding harus dijauhi oleh hana. Biadap? Sangat.
Sampai aku memilih untuk pindah ke tempat yang lebih jauh dari mereka berdua. Dari sudut kelas diam-diam aku dan hana, kami saling menatap dengan keras. Memberikan tatapan tanpa persahabatan. Suasana kelas mulai beda, wanita manis itu sering sekali menangis. Dari dulu, dari awal kami bersahabatan aku juga tidak pernah tega untuk melihatnya menangis. Namun dikelas siang itu, aku harus menahan iba dan perhatian untuk menghanyutkan wanita manis itu kedalam pelukan. Anak kelas meminta kami saling menyelesaikan peradaban setan kecil-kecilan itu. Wanita itu semakin menangis menjadi-jadi. Aku pun terhanyut ketika menatap tajam tangisannya.
Setelah semua masalah selesai, kami menjadi kembali baik. Berbulan-bulan di kelas yang diberi julukan GPS2 itu membuat aku nyaman. Tapi sampai berbulan-bulan itu juga aku belum mengambil ekskul apapun. Berbeda dengan wanita itu, ia sekarang sangat sibuk dengan cita yang ia harapkan di ekskulnya. Kesibukan itu membuat aku dan ia juga kurang mencampur waktu bersama.
Kenyamanan membuat sebuah waktu menjadi lebih singkat, tidak terasa juga harus naik ke jenjang yang lebih serius. Dengan pembagian jurusan, memilih keinginan dan cita yang berbeda. Aku jadi ingat waktu hasil pembagian jurusan yang belum fix itu, namanya tertera pada list anak kelas IPS. Dikelas, wanita manis dan juga cengeng itu tersedu-sedu. Lagi, ia sangat manis ketika menangis. Sahabat yang membuat aku mampu mengagumi kemanisannya.
Setelah masuk pada kelas jurusan masing-masing, kami semakin sibuk untuk melanjutkan sekolah. Wanita itu juga tampak lebih nyaman dengan hari-harinya karena seorang lelaki bergigi tak rapih itu. Tapi, di selipan aku bahagia juga melihat kenyamanannya ada rasa takut. Ia lebih banyak waktu untuk keluar. Aku takut untuk menegurnya, tapi aku memilih menegurnya dengan mulai menjauhinya tanda aku tak suka dengan sikapnya. Berharap wanita itu mengerti, aku juga menolak setiap tawarannya untuk pergi bersama dengan mereka, juga pacarnya. Tapi dia malah menyimpulkan bahwa “kamu minderkan karna kamu jomblo?,” dikantin pagi itu aku menahan perasaan yang tak baik ini. Aku pulang lalu menangis, menceritakan ini kepada bunda bahwa aku sedih juga kecewa.
Aku juga merasa sangat berdosa ketika membuat ia menangis karena perkataanku yang terlalu kasar itu. Perdana, aku juga sangat merasa bersalah.
Banyak sebenarnya yang ingin aku sampaikan dengan wanita itu, tapi aku hanya mampu memandangnya lalu membicarakan semuanya sendiri, tanpa ia dengar, tanpa ia ketahui. Awal kekecewaan itu membuat aku merasa salah telah memilih ia menjadi sahabat yang manis, yang pantas aku tangisi saat berpisah. Namun setelah aku pelajari, ini lah persahabatan.
Aku tetap mencintai wanita manis, cengeng dan berpipi chubby ini sebagai seorang saudara yang membuat aku belajar untuk royal. Sedikit malu untuk menyampaikan bahwa aku merindukannya, aku hanya membicarakan kerinduan ini dengan teman yang menemaniku memandangnya di lapangan di siang yang panas tadi. Rindu itu disampaikan kepadanya dari temanku, dia tertawa kecil. Haha, lucu ya? Aku merindukan sahabat yang jelas saja 1sekolah denganku. Tapi inilah, kedekatan yang aku rindukan. Nony ayu kusuma. Haha :”)
Nia Annisa


Senin, 02 Januari 2017

Taman Kota Sebagai Ruang Hijau Publik di Kota Bengkulu

Polusi merupakan salah satu permasalahn yang ada di dalam masyarakat Indonesia, baik itu polusi udara, polusi suara, polusi air, maupun polusi tanah.Namun permasalahan yang timbul di masyarakat perkotaan seiring dengan perkembangan penduduk seringkali dapat menimbulkan masalah polusi, khususnya polusi udara. Hal tersebut terjadi karena semakin bertambahnya pula tingkat kepemilikan kendaraan.Masalah seperti ini juga terjadi di kota Bengkulu yang semakin hari semakin bertambah pula intensitas penggunaan kendaraannya di jalan.Tetapi, hal tersebut justru tidak seimbang dengan ruang hijau yang tersedia di kota bengkulu, karena pemerintah kurangikut andil atau memberikan perannya dalam pengadaan ruang hijau di kota Bengkulu, guna mengurangi polusi udara yang setiap hari kian meningkat.

Selain permasalahan mengenai kendaraan, kota Bengkulu juga mulai banyak dibangun gedung-gedung, seperti : hotel, ruko, dan mall, yang secara otomatis dapat menggunakan lahan yang tidak sedikit dan bisa saja lahan yang digunakan tersebut, yang  tadinya merupakan salah satu lahan atau daerah yang digunakan sebagai sarana penyerapan air hujan, namun justru dialih fungsikan sebagai tempat dibangunnya gedung-gedung tersebut. Hal ini semakin mempersempit lahan hijau, yang semestinya diharapkan bisa menyeimbangkan antara polusi yang dihasilkan dari masyarakat pengguna kendaraan dengan lahan hijau yang tersedia. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahn tersebut adalah adanya ruang hijau publik, karena ruang hijau merupakan sarana yang dapat menjadi “paru-paru” kota yang dapat menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida.Kemudian, ruang hijau publik yang dimaksud disini adalah taman kota.Karena kota Bengkulu sendiri pun belum mempunyai sebuah taman kota yang mampu menjadi ruang hijau publik, baik sebagai pengurang polusi maupun sebagai sarana rekreasi bagi masyarakat kota. Dengan adanya taman kota ini, bisa menjadi sarana yang baik untuk berkumpulnya antar anggota masyarakat dari semua golongan baik tua maupun muda yang sembari menikmati kerindangan dan kesejukan alam hasil dari taman kota tersebut tanpa perlu jauh-jauh pergi ke daerah pegunugan seperti ke daerah Kepahiang dan Curup, karena jika demikian pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan tentu saja tidak efektif

Taman kota ini nantinya dirancang pengadaannya dengan berbagai fasilitas yang memadai sekaligus dapat mendukung peran dan tujuan yang memang seharusnya, pertama lahan yang luas dan letaknya yang tergolong strategis dan mampu dijangkau dari arah mana saja agar tidak menjadi hambatan bagi siapapun yang ingin datang kesana. Kedua, taman kta tersebut harus dipenuhi dengan pepohonan hijau yang rindang dan harus ditata dengan seefisien mungkin sehingga menimbulkan rasa nyaman dan sejuk bagi siapapun yang berada disana. Ketiga, diharapkan juga untuk tersedianya bangku-bangku panjang, tempat ibadah, wc umum, jogging track,tempat sampah, dan berbagai fasilitas bermain untuk anak-anak seperti : ayunan, perosotan,jaring laba-laba dan lain sebagainya masih banyak lagi yang dapat diletakkan disana dan tentu saja harus bersifat aman untuk digunakan oleh anak-anak.

Tambahannya, di taman kota ini harus dilengkapi dengan aturan bahwa adanya larangan bagi para pedagang, baik itu pedagang asongan maupun pedagang besar untuk berjualan disana karena taman kota ini di rancang sedemikian rupa dengan fokus tujuan selain sebagai ruang hijau publik, yakni juga sebagai tempat rekreasi bebas sampah, dan yang di khawatirkan ada jika taman dipenuhi oleh para penjual yang berjualan secara sembarangan, akan dapat menimbulkan banyak sampah dari tangan-tangan nakal yang membuang sampah secara sembarangan.

Untuk mewujudkan rancangan mengenai taman kota dari ruang hijau tersebut,sangat  dibutuhkan peran pemerintah guna mendukung terwujudnya rancangan taman kota dalam berbagai aspek, termasuk dalam bentuk penyediaan lahan dan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat dalam menuangkan ide-ide kreatif mereka untuk menunjang dibuatnya taman kota di Bengkulu. Karena, tanpa adanya bantuan dari pemerintah dalam bentuk penyediaan lahan dan fasilitas, masyarakat tidak akan bisa bergerak untuk dapat memulai dalam membuat rancangan taman kota yang sudah direncanakan, termasuk menghadirkan ciri khas provinsi bengkulu yaitu bunga rafflesia dan kain besurek, yang diharapkan pada kelanjutannya bisa membuat kota Bengkulu dikenal tidak hanya melalui taman kota nya semata, namun juga mempunyai sebuah ciri khas yang dapat membuat Bengkulu berbeda dan istimewa dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Namun, selain dalam wujud bantuan pemerintah dalam penyediaan lahan dan fasilitas, dibutuhkan pula turun tangan langsung dari masyarakat untuk membantu terwujudnya rancangan taman kota tersebut. Hal tersebut, dapat dimulai dengan membangun “Mentalitas” dalam diri masyarakat itu sendiri, dimana mentalitas disini yang dimaksud adalah bagaimana cara kita berpikir dan berperasaan dalam bertindak. Maksudnya, masyarakat harus benar-benar mendukung proses pembangunan taman kota tersebut, selain membantu pemerintah dalam pembangunannya, masyarakat juga benar-benar harus menjaga fasilitas yang sudah diberikan oleh pemerintah, dengan cara mengatasi tangan-tangan nakal yang seringkali mementingkan keperluan pribadinya sendiri, Misalnya dengan mengambil lampu-lampu jalan yang digunakan sebagai pernerang jalan bagi pengguna jalan,serta merusak fasilitas yang sudah tersedia di taman kota tersebut, seperti tidak membuang sampah pada tempatnya, atau meletakkan sampah pada tempat yang salah, seharusnya organik justru diletakkan ditempat anorganik, tidak menjaga kebersihkan wc umum setelah menggunakan wc umum tersebut, merusak bangku-bangku, mengotori tempat ibadah yang seharusnya benar-benar dijaga kebersihannya karena untuk tempat beribadah, serta mengedukasi anak-anak agar dapat timbul rasa kepedulian dan rasa cinta terhadap taman kota tersebut.

Dengan demikian, pengadaan ruang hijau publik di tengah masyarakat, yakni taman kota di kota Bengkulu memang perlu di rancang pengadaannya. Karena taman kota yg selama ini belum pernah Kota Bengkulu miliki, dapat dijadikan salah satu ikon bagi kota, disamping dari tujuan utama nya yaitu sebagai salah satu alternatif penanggulangan atas polusi udara, dan yang membantu meringankan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat sekarang.

Ciri khas yg bisa di tampilkan dari Bengkulu dapat berupa hal-hal yg memang selama ini telah menjadi khas dari budaya maupun khas alam nya provinsi Bengkulu, yakni batik besurek, bunga raflesia, dan sebagainya.
Sehingga, selain dapat menikmati nuansa alam yang terdapat di taman kota ini, siapapun masyarakat yang berkunjung dari semua golongan baik muda maupun tua, baik masyarakat sekitar maupun masyarakat yang berasal dari luar kota Bengkulu, khususnya untuk masyarakat Bengkulu,diharapkan untuk dapat tetap merasa bangga akan budaya sendiri, lalu akan timbul pula rasa cinta untuk tetap selalu mempertahankan keaslian dan keindahan dari budaya tersebut agar tidak terkontaminasi dengan budaya-budaya yang tidak diharapkan masuk ataupun yang merusak budaya sendiri.

Dan bagi masyarakat di luar kota Bengkulu, baik masyarakat yang berasal dari indonesia sendiri maupun yang berasal dari warga asing atau luar Indonesia, akan dapat semakin mengenal bagaimana budaya dari kota Bengkulu, yang memang kaya akan budaya dan alam yang memang patut untuk di lestarikan.
Aldila Vidianingtyas Utami

Kamis, 17 November 2016

“APEL UNTUK BONA”




Bona. Nama yang kudapatkan tiga tahun lalu ketika aku berhasil berdiri untuk pertama kali semenjak aku lahir. Satu-satunya pelajaran yang kudapat dari ibuku sebelum ia pergi meninggalkanku untuk selamanya karena menelan rumput beracun.
            Ingatan pahit kematian ibu terekam jelas dalam ingatanku. Ketika aku melihat ibu tercekik racun dalam tubuhya dan aku hanya bisa melihatnya dari balik kaki-kaki besar gajah dewasa lainnya. Ibu adalah satu-satunya sosok yang kucintai, kepergiannya meninggalkan luka dan mimpi buruk yang terus merajam pikiranku bagai duri semak belukar.
            Aku mengenal diriku sebagai sebatang kara yang tinggal bersama sekelompok gajah lainnya. Nama-nama yang kuingat tidak begitu banyak, hanya Nelson, Eva dan Niel yang kuingat, gajah-gajah dewasa yang ada dalam kelompok ini. Sedangkan anak-anak gajah lainnya, mereka sering memanggil namaku tapi tak satu pun nama mereka yang kuingat.
            Tanpa ibu, aku merasa sangat kesepian. Aku lebih suka menyendiri di bawah pohon atau dipinggir sungai, tidak seperti anak-anak gajah lainnya yang begitu semangat menjalani masa kecilnya. Selama tiga tahun aku belum bisa mengeluarkan diriku dari kesedihan, aku merasa sangat iri dengan mereka yang memiliki ibu yang selalu bersama mereka dan mengajarkan banyak hal. Aku merindukan ibu.

***
            Aku ingat hari ini aku berusia tepat tiga tahun. Tapi yang membuat hari ini terasa pahit, aku mengalami mimpi buruk semalam. Hari ini menjadi hari yang berat untuk kujalani, seperti biasa aku hanya menyendiri di bawah pohon rindang.
            “Ayolah, Bona. Kamu gajah jantan berumur tiga tahun, jangan bersedih terus, nak.” ujar Niel  suatu siang saat aku berteduh di bawah pohon rindang.
            Aku hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan gajah jantan dewasa itu.
            “Hei, Bona! Tolong ambilkan aku satu buah apel itu dong. Itu terlalu tinggi, aku sangat ingin memakannya, buahnya pasti enak.” Tiba-tiba seekor kelinci memintaku untuk menolongnya. Tapi aku tak menghiraukannya dan pergi meninggalkan Niel menuju tepi sungai.
            Di tepi sungai aku bertemu sapi, lagi-lagi ia memintaku untuk menolongnya memetikkan sebuah apel dari pohon di tepi sungai. Seperti sebelumnya, aku tak menghiraukannya dan berjalan menyeberangi sungai.
            Setibanya di seberang sungai, aku bertemu Eva, gajah betina dewasa yang sedang berdiri di bawah pohon apel. “Bona, tolong petikkan apel itu untukku. Aku sangat ingin memakannya, rasanya pasti enak sekali.” Aku bingung, Eva melakukan hal yang sama seperti si kelinci dan sapi. Dan yang membuatku bertambah bingung adalah bahwa Eva bisa memetik apel itu sendiri jika ia mau, karena ia punya belalai yang panjang untuk meraihnya.
            “Kau bisa melakukannya sendiri, lagipula belalaimu lebih panjang daripada belalaimu.” Aku menjawab seadanya.
            Tiba-tiba aku merasakan tubuhku didorong oleh belalai yang besar. Aku memalingkan mataku dan mendapati Nelson di sebelahku. Belalainya yang besar mendorong tubuhku mendekati pohon apel itu.
            “Mereka meminta tolong padamu, kawan. Persis seperti yang dilakukan ibumu dulu.”
            Mendengar kata-kata Nelson, aku tak mengerti. Apa yang dilakukan ibuku dulu?
            Nelson menghela napas dan berkata, “Sebelum melahirkanmu tiga tahun yang lalu, ibumu mengatakan kepada seluruh penghuni hutan ini bahwa ia akan melahirkan. Ia meminta tolong kepada kami semua untuk menjaga dan merawatmu. Kematiannya adalah kejadian yang tak pernah kami sangka. Pesan itu seperti pesan terakhir untuk kami menjagamu, Bona.”
Tubuhku kaku, ingatan pahit itu membuatku semakin terpuruk. Aku menangis dan meraung sejadi-jadinya, mereka yang melihatku hanya diam memperhatikanku. Ketika itu semua para penghuni hutan mendekati dan mengelilingiku, Nelson, Eva, Niel, juga si kelinci dan sapi yang kutemui juga berkumpul. Mungkinkah mereka yang dimintai tolong oleh ibu? Mereka yang selama ini tak kuhiraukan.
“Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk membalas kebaikan kami, anak muda?” tanya Nelson padaku.
Pertanyaan itu menghentikan tangisku. Aku berjalan mendekati pohon apel dan menggapai buahnya dengan belalaiku. Satu per satu aku bagikan apel itu kepada semua hewan yang berkumpul di dekatku, setelah semuanya mendapatkan aku pun menggenggam satu buah apel dengan belalaiku. Perlahan aku memasukkan apel hijau itu ke dalam mulutku, rasanya manis dan airnya menyegarkan tenggorokanku. Air mata kembali tak terbendung.
“Terimakasih. Terimakasih telah menjaga dan merawatku selama ini. Terimakasih untuk membantu ibuku. Maafkan aku selama ini tak menghiraukan kalian semua.” Aku berucap sambil menangis terisak, mengingat ibu yang sangat kurindukan.
“Sama-sama, Boni.” ujar mereka berbarengan.
“Selamat ulang tahun, Boni. Ayolah, gajah jantang tak boleh cengeng.” kata seekor gajah seumuranku.
Aku hanya diam, aku tak mengingat namanya.
“Aku Oba, ayo mandi ke sungai. Aku tahu kamu jarang mandi!” ucapan Oba sontak membuat semua tertawa.

Terimakasih. Senyum dan tawa kalian serta rasa apel hijau yang manis seperti menjadi obat mujarab yang menyembuhkan lukaku. Untuk seterusnya aku akan bermimpi yang indah. Terimakasih. 

Kamis, 07 Januari 2016

Bidadari Di Hari itu

Aku tersenyum mendengar perkataan Aldi, dia begitu memikirkan siapa yang akan duduk di sampingnya nanti, Aldi begitu kwatir mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia duduk di samping ibu-ibu yang super duper gendut, mungkin berat badan ibu itu tiga kali lebih besar dari badan Aldi yang hanya seperti bila lidi.
Tin... tin...., nah itu dia travel yang akan aku naikki hari ini, aku menggendong tasku dan bergegas menuju ke mobil, aku akan pergi ke kampung halamanku di Bengkulu, ya kira-kira kalau dari kota palembang bisa mencapai dua belas sampai tiga belas jam ke kotaku. Itu hal yang sangat membosankan.
Aku duduk di mobil bagian belang, tentunya disamping Aldi.
“Dek dek,” pangil supir travel padaku, aku hanya menoleh.
“Kamu duduk di sini saja, biarkan ibu dan anak ini yang duduk di sana,” supir itu menunjuk ibu dengan dua anak itu, aku hanya mengangguk dan berpindah tempat ke depan, aku tertawa melihat muka Aldi yang merena, “Udah Di terimah aja itu udah nasip kamu,” kataku dalam hati, aku masih tertawa, tapi tiba-tiba ada yang mengubah tawaku menjadi sebuah senyuman manis, aku melihat bidadari cantik di depanku, ya tepat di depanku sekarang ini, jantungku bertetak kencang dan di telingahku terngiang lagu-lagu indah dan romantis seperti berada di tengah-tengah film india.
“Hey dek cepet sedikit,” seseorang memecah lamunanku, aku beranjak memduduki tempatku, kali ini rasa bosan selama perjalanan akan berubah menjadi rasa senangku. mobil melaju dengan keceptan sedang, aku tak berhenti untuk tersenyum apa lagi saatku lihat wajah polosnya saat tidur, kulitnya putih bersih, matanya belok, bibirnya tipis dan muka cubbynya. baru kali ini aku melihat wanita secantik dan seanggun dia, wanita yang kecantikannya tidak hanya terhilat dari parasnya saja tapi juga dari keimannan ya juga, terbukti dari dia menutup auratnya. Ahh sudahlah Fan wanita seperti dia mana mau sama laki-laki berandalan seperti aku. Aku tersenyum dan mencoba untuk menutupkan mataku hingga aku tertidur.
“Irfan Irfan bangun.” Suara itu terngiang di telingaku perlahanku buka mataku, di depanku sudah ada Aldi
“Emm, sudah sampai ya Di?” tanyaku setengah sadar
“Apanya yang sudah sampai Fan, masih lama banget sampainya,” jelas Aldi, aku masih terdiam dalam lamunanku
“Fan,” panggil Aldi
“Emm,” Jawabku singkat
“Ayo makan siang! Apa kamu mau tetap disini?”
Aku berdiri keluar dari mobil dan mengikuti langkah Aldi
“Eh Fan, cewek yang di samping kamu siapa namanya?” tanya Aldi, aku terdiam sejenak, “Oo iya-ya bidadari itu? Dimana Dia? Aku terlalu lerlelap sampai-sampai aku tak menyadari ada sesorang wanita di dekatku, bagaimana posisiku tidur tadi ya? Apa sangat memalukan? Ahh sudahlah,” pikirku dalam hati.
“Fan, kamu belum menjawab pertanyaanku,” tanya Aldi lagi
“Oo dia, aku tak tau siapa namanya,”
“Masa sih Fan?”
“kamu liat sendirikan Di? kerjaku hanya tidur selama di mobil, bagaimana aku tahu namanya dia saja tak pernah membuka mulutnya untuk bicara,” jelasku, Aldi hanya menganggukan perkataanku.
Buusst seseorang lewat dihadapanku, ya itu dia orang yang ku cari-cari, mataku selalu memandangi gerak gerik wanita itu dan ku liat dia memasuki sebuah musolah yang tak jauh dari rumah makan ini, aku melihatnya melaksanakan sholat, perempuan ini, disaat yang seperti ini masih saja menyempatkan waktu untuk bisa sholat, hal ini menambah kekagumanku lagi dan lagi, aku masih terus memantau gerak geriknya, tapi kok gerakan sholatnya tak sama seperti apa yang aku tau? Mengapa wanita ini hanya mengerjakan sholat dzuhur hanya dua rakat saja dan tunggu dia mengerjakan sholat lagi, aku memandanginya lagi dan tetap sama wanita ini hanya mengerjakan dua rakat lagi, apa yang dilakukan oleh wanita ini? Pertanyaan terus bermunculan di kapalaku, apa arti dari semua ini?
Setelah kira-kira satu jam aku dan rombonganku kembali memasuki mobil, aku melirik ke arah wanita itu, aku ingin mengobati rasa penasaaanku pada apa yang ia lakukan tadi, aku terus memandainya hatiku cukup berat untuk mengatakan keraguan ini, wanita itu menoleh ke arahku dan tersenyum,
“Kenapa ya mas?” tanya wanita itu.
Aku juga tersenyum, “Mbak muslim?” tanyaku
“Iya, kenapa ya mas?” jawabnya dengan lembut
“Tadi saya liat, kok mbak sholatnya aneh?”
“Aneh bagaimana? Coba di jelaskan saya tidak mengerti.”
Aku menghela nafasku, “Mbak kok mengerjakan sholat dzuhur dua rakaat salam dua rakaat salam? Bukanya sholat dzuhur itu di kerjaan dengat empat rakaat dan satu salam?”
Wanita itu tersenyum lagi, “Mas tahu istilah jama’?”
Aku hanya menggelengkan kepalaku
“Itulah yang disebut menjama’ sholat dimana kita mengabungkan dua sholat dalam satu waktu,” jelas wanita itu, tapi aku tetap tak mengerti
“Seperti yang mbak kerjakan tadi?” tanyaku lagi
“Ya seperti itulah.”
“Tapi mbak saya gak ngerti, bisa dijelaskan lebih rinci?” pintaku
“Menjama’ sholat itu ada dua macam, yang pertama jama’taqdim yakni dikerjakan dengan tertib misalnya zhuhur dahulu, kemudian ashar dan magrib dahulu kemudian isya’ dan yang kedua yakni jama’ ta’khir yakni mengerjakan sholat ashar dahulu baru kemudia zhuhur diwaktu ashar,” jelasnya panjang, aku hanya menganggukan kepalaku,
“Lalu, kenapa mas hanya melihat saya sholat kenapa mas tidak mengerjakannya?” aku terdiam sejenak
“Tapi bukannya kita sedang dalam perjalaan ya? Jadi bisa dimaklumin dong,” jawabku santai
“Ini yang salah, yang namanya wajib kita harus melaksanakannya, itu perintah langsung dari Allah, walaupun kita dalam perjalanan bukan berarti sholat itu menjadi sunah, yang wajib harus di kerjakan, oleh sebab itu Allah telah mempermudah kita untuk melaksanakan sholat, kita bisa menjama’ sholat atau mengqosor sholat, orang sakitpun masih wajib mengerjakan sholat apa lagi orang yang sehat seperti kita. bukankah itu sudah jelas Allah sangat ingin melihat hamba-hambaNya beribadah?”
“Mengqosor sholat itu apa?” tanyaku malu
“Mengqosor sholat itu ditunjukan untuk seseorang yang sedang berpergian, yaitu mempersingkat sholat wajib yang 4 raka’at menjadi dua raka’at, mengkosor sholat ini hanya bisa dilakukan untuk sholat 4 raka’at saja untuk magrib dan subuh itu tidak diperbolehkan.”
“Ya udah deh mbak makasih untuk penjelasaannya, nanti saya akan menjama’ sholat ashar sama magrib biar gak banyak yang terlewat.”
Wanita itu tersenyum sampul, “Mas, itu juga punya aturan kita gak bisa sembarangan aja menggabungkan sholat, sholat yang gak bisa di jama’ yaitu sholat subuh, zhuhur dengan ashar, magrib dengan isya’ kita enggak bisa menggabungkan magrib dengan asyar, itu bukan ketentuannya.”
“Oo jadi gitu ya? Oke deh mbak masih ya dan maaf atas ketidak tahuan saya.”
“Sama-sama,” wanita itu tersenyum padaku, aku membalasnya
Mengapa aku begitu begok untuk menyadari hal sekecil itu? Sebenarnya itu begitu memalukan untuk orang yang sudah balig sepertiku, bahkan dengan istilah-istilah yang seperti itu saja aku tak tahu, padahal aku tahu hal itu pasti pernah di pelajari semasa sekolah, tapi sayang aku begitu meremehkan pelajaran yang ku anggap tahu padahal sama sekali aku tak tahu apa-apa. Andai waktu bisa diulang aku tidak akan melakukan hal-hal bodoh semasa sekolah, aku akan memperhatikan dengan benar apa yang dijelaskan oleh guru-guruku, tapi sayang waktu itu tak bisa terulang yang ada hanyalah penyesalan yang tak bisa di ubah, sekarang hanya bisa mempelajarinya untuk yang ke dua kalinya.
“Terimah kasih,” kataku dalam hati, aku melirik ke arahnya tampaknya dia sedang menyaksikan keindahan alam perjalanan, aku tersenyum, “Kok bisa aku dipertemukan dengannya?” kataku dalam hati.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu perjalannanku kali ini sunggu sangat mengesankan, waktu menunjukan pukul 18:05 ini saatnya kami akan beristirahat makan dan sholat magrib, mobil berhenti tepat di depan rumah makan besar, suasanya begitu ramai aku turun dari mobil aku mengikuti langkah gadis itu,
“Mbak, mau sholat ya?” tanyaku padanya
Wanita itu menoleh kearahku, “Iya, kenapa? Mau ikut ya?”
Aku menganggukan kepalaku, wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum padaku, aku mengikuti langkahnya lagi, “Mbak nanti, sholat ya di jama’?” tanya ku
“Hah? Kenapa harus di jama’ mas?”
“Ya biar kita enggak ketinggalan sholat isya’,” jawabku
“Tapi kan sholat isya’ itu waktunya panjang, jadi bisa di pastikan kita akan sampai sebelum subuh, lebih baik sholat di wktunya masing-masing jika kita tahu kita akan sampai ke tempat tujuan sebelum waktu sholat itu berakhir,” jelasnya
“Jadi kita tak perlu menjama’nya?” tanyaku lagi, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya
“Ok itu artinya kita hanya mengerjakan sholat magrib tiga rakaat dalam satu salam?” tanyaku polos
“Iya, mas,” jawabnya singkat
Aku menuju kemasjid, dan melaksanakan sholat bersama gadis itu, keliahatannya aku dan gadis itu sudah semakin akrab, tapi ada yang kurang di sini, mengapa aku tak tau namanya? ingin ku beranikan diriku untuk bertanya siapa namanya, tapi lidahku terasa keluh untuk bicara hal itu, mengapa? Apa aku memang di takdirkan bertemu bidadari yang menyadarkanku akan pentingnya sholat dan tak ada alasan untuk meninggalkan sholat? apa memang dia yang di tujuk Allah untukku? aku ingin jika suatu saat nanti aku dan bidadari ini akan di pertemukan di suatu perjalanan yang lain entah itu dari kotaku di bengkulu atau dari kotanya di palembang? Entahlah bisa jadi pertemuan ini adalah pertemuan pertama dan terakhir aku dan dia.
Mobil melaju dengan pesat, mungkin sekitar 1 jam lagi kami akan sampai ke tujuan kami yaitu kota bengkulu dan dengan begitu aku tak kan bertemu dengan gadis cantik ini,
pertemuan ini membuatku malu dan pertemuan ini membuatku percaya akan cinta pada pandangan pertama dan membuatku sadar cinta Allah pada umatnya yang tiada duanya.
“Stop pak,” pintaku
Mobil berhenti, aku terdiam sejenak, aku keluar dari mobil dan begitu juga dengan gadis itu, aku megambil tasku, aku terdiam berfikir,
“Mbak, makasih ya,” ucapku, wanita itu tersenyum padaku
“Iya, sama-sama,” wanita itu memasuki mobil, aku melihat  mobil itu perlahan menjauh dari pandanganku semakin jauh-jauh dan menghilang, inilah akhir pertemuanku dengan bidadari itu, terimah kasih untuk seseorang yang ku sebut bidadari seseorang yang tak pernah ku tahu namanya tapi selalu ku kenang untuk selamanya itulah bidadari travelku. (Red_Baskom)

Ceritamu Menguatkan Ku

Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali semua yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada hidup adalah anugra
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Jangan menyerah jangan menyerah  ohh..
Lagu itu terdengar dari Mp3 ku, jadi teringat teman SMP ku dahulu, ia bernama Yossi seorang gadis sederhana dari keluarga yang berkecukupan, hidupnya lengkap mempunyai ayah, ibu dan juga seorang adik laki-laki semua keluarganya mencinyainya termasuk kami para sahabatnya, tapi ada yang membuatnya iri pada setiap orang, membuatnya mesara rendah didepan orang yang baru di temuinya, membuatnya merasa malu ditatap dengan tatapan heran semua orang yang melihatnya, dan membuatnya benci pada setiap orang yang mengejeknya dan berlagak manusia paling sempurna di dunia. Yossi terlahir dengan sempurna sama seperti manusia pada umumnya mempunyai tanggan, kaki, mulut, mata, hidung dan organ-organ lainnya, tapi ada yang membedakannya dari manusia lain bibirnya tebal dan ada bercak merah di mulut dan lehernya, hal inilah yang membuat orang melihatnya merasa jijik, aku tak munafik, akupun merasakan hal yang sama terhadap Yossi ketika melihatnya pertama kali di sekolahku rasanya aku tak mau kenal dengan orang seperti Yossi apalagi berteman dengannya, aku merasa malu, tapi Allah mengatur setiap pertemuan kami, mengatur setiap langkah yang kami lalui dan mengatur siapa saja yang akan menjadi bagian penting dalam kehidupan kami, Allah takdirkan kami bersahabat hingga aku tahu semua gundagulana yang ada dalam hatinya, hingga aku tahu betapa susahnya hidup sepertinya. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan “Mamble” Yossi dengan senang hati tersenyum walau banyak yang mengejeknya seperti itu. Kadang seseorang hanya bisa menilai dari luarnya saja dan tanpa mau tahu apa yang tersembunyi di dalamnya.
            Selepas SMP aku dan Yossi berbeda SMA baru beberapa minngu Yossi di SMAnya yang baru, ia sudah mendapatkan teman yang banyak, aku sangat bersyukur mendengar hal itu akan tetapi tak ada hal yang lebih sakit dari pada menjadi orang yang dimanfaatkan, tak ada yang benar-benar peduli, tak ada yang benar-benar tulus pada Yossi mereka hanya memanfaatkan Yossi , karena Yossi orang yang pandai, tangisan itu tak pernahku lupa, air mata dipipi Yossi telah menjadi dokumen yang tersimpan erat dalam benakku, rasa tak rela melihat sahabat sendiri diperlakukan layaknya seorang robot, tapi apalah daya hidup adalah hidup, hidup akan terus dijalani suka dan duka. Kata-kata Yossi selaluku jadikan pelajaran yang sangat berharga, Yossi pernah berkata padaku “Biarlah jika orang mau menganggapku apa, biarlah orang mencemoohku semaunya, biarlah jika tak ada orang yang mau berteman denganku, toh ada dan tidak adanya mereka, hidupku masih akan berjalan, mereka tak bisa menjamin jadi apa aku nanti, toh untuk apa aku perduli, hidup ini sudah ada jalannya sendiri-sendiri.”
Air mataku mengucur deras membasahi kedua pipiku, aku teringat kembali akan temanku yang satu itu, hal ini selaluku jadikan pelajaran agar aku selalu bersyukur bahwa Allah tak pernah tidur, Allah akan selalu melihat pengorbanan kita, Allah mendengar kita, Allah akan memberi yang terbaik, maka oleh itu bersyukurlah dengan apa yang telah Allah beri untuk kita, karna apapun itu pasti akan ada jalannya sendiri.
Kini tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Bu Guru Yossi, ia telah menjadi guru matematika di sekolahku dulu, ya disekolah favorit yang tak bisa ia masuki dulu dan sekarang ia bisa masuk ke sekolah itu sesuka hatinya, karna itu Allah telah merencanakan yang terbaik untuk kita dan Allah selalu mengingat hamba-hambanya. (Red_Baskom)

Senin, 08 September 2014

Nyaman


Ditengah terik dan panasnya teriakan protes dalam aksi demo pelataran gedung mewah Legislatif daerah Bengkulu. Akhir-akhir ini kasus kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat. Majalah, Koran ataupun pemberitaan dimedia-media mainstream sibuk memberitakan kasus-kasus baru tentang pemerkosaan atau pencabulan terhadap perempuan. Sepertinya dunia memang sudah mendekati deadline kiamat.
Citra, perempuan “jalan” ini masih saja setia dengan toa nya, membacakan lembaran-lembaran tuntutan terkait penyelesaian isu-isu yang marak akhir-akhir ini. Entah ada gunanya atau tidak suaranya tetap lantang meneriakan keadilan dan perlindungan. Meski sebenarnya ia sadar deretan polisi yang menjaga atu bahkan tukang sapu jalanan pun tak menggubris apa teriakan nya, tapi setidaknya yang sedang tidur didalam gedung megah itu terusik hingga akhirnya memilih menutup telinga. Kadang memang perjuangan tak seperti yang diinginkan. Beginilah kompetisi kehidupan, yang sering disebut sebagai hukum alam.
***
Jam 14.00, Citra merebahkan tubuhnya disofa. Teriak-teriak seharian ternyata membuatnya cukup kelelahan hingga akhirnya tertidur. Ruangan kerjanya lumayan nyaman untuk beristirahat dan menghilangkan emosi sisa demo tadi.
Kantor ini adalah LSM yang begerak dalam wilayah-wilayah kerja advokasi dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Tak banyak yang merelakan waktunya untuk mengurusi kerja-kerja kemanusiaan tanpa kejelasan hidup seperti ini. Melakukan kegiatan dalam orientasi penolongan, namun hidupnya sendiri pun kadang tak tertolong.
Siluet mentari sore ternyata tak membiarkan Citra berlama-lama dalam mimpinya. Citra terbangun dan mengeliat menyamankan dirinya dalam lelah. Maka tak lama dari pintu seorang muda yang tampan dengan setelan kemeja dan celana necis berdiri meletakan helm sembari melepas sarung tangannya. Menghampiri Citra dan memberinya botol kecil berisi air mineral. Setelah lelah berdemo dan tertidur cukup membuat citra kehilangan ion tubuh dehidrasi. Maka tanpa sungkan diambilnya botol itu dan diminumnya hingga habis tanpa sisa.
Pria tampan itu mengusap sisa minum dibibirnya, dan kini citra terjaga seutuhnya dari tidurnya. Kantor terlihat sepi, artinya sudah diizinkan untuk mereka pulang dan meninggalkan kantor segera. Maklum terkadang penghuni lain kantor ini terlalu nakal jika hari mulai gelap dan kehilangan mentari.
***
Motor terparkir disebuah rumah makan. Suasana sore yang begitu ramai, ah! Iya ternyata hari ini weekend, pantas banyak pameran manusia menghiasi jalan dan antri demi mendapatkan waktu untuk menghantarkan mentari tenggelam diujung pantai. Kali ini masih Citra dengan tampilan yang lebih bak dari sebelumnya, mengenakan setelan jeans dan kaos creamnya, dengan sepatu cat andalannya yang manis, sangking manisnya mungkin semut pingsan lewat disampingnya. Citra bersama Pria tampan yang tetap saja menawan dengan setelan celana dan kemeja santai yang tetap rapi.
Satu minuman datang disambut dengan adegan romantic, dimulai dengan memandangi mentari yang mulai pamit undur diri dari sinarnya dan menyulap awan menjadi jingga kemerahan yang cantik. Dan ombak masih saja setia memecah sunyi yang merdu dan menawan dengan buih-buihnya yang terdampar dipasir menyandung bebatuan pinggir pantai.
***
Pukul 22.00, masih saja setia dengan rapat dan masih saja berdialektika dengan isu-isu yang setia mengusik aktivis perempuan ini. Ada yang kurang sepertinya, sang orator demo ternyata dicari karena belum menampakan batang hidungnya juga sampai selarut ini. Sigap saja salah satu diantaranya mengambil HP dan memeriksa keberadaan temannya yang ditunggu tersebut.
***
Dilain tempat HP diangkat. Mengiyakan, lantas berlalu kesebuah tempat yang menunggu kedatangannya sedari tadi.
***
Tak lama kemudian Citra telah berada di depan kantor. Citra masuk lalu beberapa saat kemudian kemarahan-kemarahan kecil menyambut kedatanganya.
Seorang yang sedang asik membaca buku menghempas bukunya sesaat melihat kedatangan citra. “Kemaren teriak-teriak ama koruptor. Sekarang dia sendiri yang ngorup waktu! Gak konsisten lu!”
“Ya, maaf. Aku ada urusan tadi, nggak sempat ngabarin.” Mukanya terlalu melas untuk mengakui kesalahannya.
“Ya udah, kita mulai rapatnya!“ salah seorang bijak menenangkan yang lainya. Sepertinya dia yang dituakan dalam kelompok itu. “Citra, ini untuk yang kesekian kalinya kamu buat temen-temen ketiduran Cuma untuk nunggu kedatanganmu dalam rapat. Kamu nggak boleh egois begini. Kerja kita sama-sama. Kalo memang nggak nyaman, meding ngomong deh!” kali ini lebih meggambarkannya seperti pemimpin kelompok dengan ketegasannya.
“Iya-iya. Maaf!”                                                                           .
            Sepertinya memang lebih baik mengalah dalam situasi seperti ini. Citra duduk dan mencoba menyampaikan permohonan maaf aas keterlambatannya dengan wajah memelasanya yang tetap manis, menolak kemarahan yang lain.
Dan rapat dimulai. Tak lama berselang dalam keseriusan rapat, HP Citra berbunyi segera kemudian mengusik Focus Forum yang ada. Dan lagi-lagi Citra jadi perhatian sesisi ruangan.
Diambilnya HP, dan dibuka message yang masuk. Dari yang ternyaman: “sayang, kamu sudah tidur. Jangan lupa berdoa ya sebelum tidur. Love you!”
Forum mendadak rusuh dan heboh. Teman perempuan yang duduk disebelah Citra ternyata membaca sms yang masuk dan meneriakan kepada teman-temannya yang lain. Dan sukses Citra jadi bahan lelucon malam ini.
Perempuan berjilbab diujung berseloroh akhirnya “Citra! Kamu itu aktivis perempuan! Pinter, cerdas dan cantik. Kok mau-maunya gitu lho pacaran sama tukang marketing yang gag ngerti gerakan.”
Dan semakin heboh ruangan itu jadinya. Yang disindir hanya senyum dan diam tenang mendengar ejekan teman-teman lainnya.
THE END


by : Siami Maysaroh

Jumat, 20 Juni 2014

Naskah Roro, oleh Rara

Perempuan itu, namanya Roro dan Rara.Gadis kembar yang diberkahi semesta dengan kecantikan layaknya selir-selir raja.Sayang Roro harus meninggal dan Rara menjadi gila.Layaknya kutukan, kampung Pala yang kehilangan ikan meski berada dipinggir pesisir.Kematian Roro dan Rara yang menjadi gila membuat kampung Pala makin suram kehilangan asa.

Entah sejak kapan Kampung Pala menjadi krisis ikan.Meski begitu orang-orang tetap saja bertahan hidup dan tinggal dipesisir pantai ini.Tidak sebagai nelayan memang, kebanyakan orang-orang kampung menjadi buruh garam dan kuli pasir.Semesta masih menyisakan kebaikan untuk kampung ini, meski ikan tak ada, tapi material lain pantai tetap menghasilkan uang.

Mereka Roro dan Rara yang begitu dipuja oleh orang-orang kampung, namun juga dicibir oleh para perempuan pesisir lainnya, karena keirian.Roro dan Rara memang tak memiliki kulit gelap dan rambut kaku seperti halnya oang-orang yang tinggal dipesisir.Kulit mereka kuning langsat dengan rambut lurus jatuh yang hitam.Tak heran jika keberbedaan fisik mereka menjadi bahan omongan orang-orang pesisir, terutama para pemuda-pemuda pesisir.

Roro dan Rara gemar menggunakan sayak[1] selutut dengan motif bunga yang membuat kecantikan keduanya semakin sempurna. Meski tak berdandan dengan make up mahal, keduanya memiliki kecatikan yang diturunkan oleh para dewi. Adalah Ibu Kades yang begitu gemar menjahit baju-baju cantik untuk kedua anaknya.Hal ini juga dilakukan sebagai upaya promosi atas kreasi tangannya.Benar saja banyak yang akhirnya memesan baju kepada Ibu kades.Memesan baju persis seperti yang dipakai oleh kedua anaknya. Meski gadis-gadis kampung pesisir tahu, baju mirip yang dipesannya tak akanmembuatnya menyaingi kecantikan Roro dan Rara.

Tapi tak lama semesta mengizinkan kecantikan mereka sebagai anugrah.Luka sesegera menghampiri mereka.Sebuah tragedi besar dan mengerikan terjadi dan menghapus keindahan keduanya.Menjadi kutukan yang menyisakan kengerian bagi orang-orang kampung.Roro dan Rara tinggallah kecantikan yang ditimbun sejarah.Kampung Pala benar-benar dikutuk para Dewa.

Sekarang, Rara dipasung dan diasingkan dikandang bekas, belakang rumahnya.Atas kengerian yang diciptakannya. Ibunya terpaksa harus memasung dan membungkam mulutnya dengan kain, Karena Rara terus meneriakan kata-kataKami Diperkosa! Oleh mereka pemerkosa bercelana biru!Kami diperkosa! Kami diperkosa!Beberapa saat setelah penguburan Roro kakaknya.

Umpatan pilu yang terus saja diteriakan sejak kematian Roroadalah tragedi besar yang mengusik Kampung Pala.Maka orang-orang yang resah atas umpatan Rara meminta Ibu Kades untuk memasungnya.Sebenarnya orang-orang kampung tak sampai hati melakukannya.Tapi demi mimpi buruk yang terus menghantui akibat umpatan Rara, hal tersebut terpaksa harus dilakukan.

Kengerian ini berawal dari tragedi malam kamis saat pesta ulang tahun Kampung Pala, beberapa minggu yang lalu.Layaknya sebuah pesta.Kemeriahan dan suka cita perayaan menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang di kampung Pala.Begitu pun dengan Roro dan Rara.Dua gadis anak Pak Kades ini adalah yang menjadi penanggung jawab atas terselenggaranya perhelatan besar kampungnya.

Persiapan telah dilakukan berhari-hari lalu.Mulai dari menghias jalanan dengan tirai panjang yang terbuat dari botol air mineral gelas yang dicat warna merah biru.Dipasang berderet sepanjang jalan dikampung Pala.Lalu mengganti cat Balai desa dengan warna putih susu, agar terlihat kemegahannya sebagai tempat yang digunakan sebagai panggung utama acara. Orkes dangdut ternama didatangkan langsung dari kota sebagai pengisi acara hiburan. Kampung Pala terlalu lama hidup dalam kesunyian.

Anak-anak pesisir dilatih untuk menari.Sebuah tarian yang dipercaya dapat mendatangkan keberkahan bagi kampung Pala disiapkan menjadi penampilan pembuka acara. Meski semua orang tahu, tarian tersebut tak akan membawa keberkahan laut adalah atas ikan-ikan dan ekositem lainya. Namun Kampung Pala adalah kampung pesisir yang tak memiliki keberkahan itu.Sudah sejak betahun-tahun lalu.Bahkan bau amisnya saja tak tercium.

Tiba saat perhelatan besar kampung berlangsung, semua orang berkumpul di pelataran balai desa kampung.Tua muda semua hadir untuk memeriahkan acara.Keindahan dekorasi dan lampu-lampu malam yang dipasang disekitaran balai semakin bercahaya saat Roro dan Rara hadir.Keduanya mengenakan sayak merah hitam selutut dengan lengan terbuka yang menawan. Dengan ikatan pita berwarna silver dipinggangnya. Juga bando silver dikepala Roro dan Jepitan Kupu-kupu berwarna silver disemat cantik di rambut Rara. Tentu saja sayak tersebut di jahit langsung oleh Ibu mereka, khusus dikenakan untuk acara besar kampung Pala.

Kemeriahan berlangsung semalam suntuk.Orkes dangdut terus saja menggoyang orang-orang dengan lagu-lagunya.Ada tiga penyanyi perempuan disiapkan untuk menghibur kampung selama semalam suntuk. Semuanya orang larut dalam joget yang menggairahkan, entah sesendu dan sesedih apa lagu yang dinyanyikan, para penyanyi tetap saja bergoyang panas diatas panggung.
Pukul 01.00 dini hari.Roro mengajak adiknya Rara untuk pulang karena sudah mengantuk.

Yangtersisa tinggal para muda-mudi saja. Ayah dan Ibu dan para orang tua telah pulang. Ayo kita pulang.Aku lelah ingin tidur dirumah.
Sebentar yu, kita habiskan satu lagu ini setelahnya kita pulang.Mbakyu duduk saja dulu nanti tak ampiri kalo selesai jogetnya.
Jangan lama-lama, nanti Ayah dan Ibu khawatir kita belum pulang selarut ini.
Ah, paling mereka sudah terlelap kecapekan. Lagian ini kan acara kampung kita sendiri, semua orang kenal kita.
Iyalah, cepat.Aku tunggu disana, aku sudah ngantuk ini.
Iya iyaa…

Roro mengambil kursi dipojok keramaian.Menyusunnya dan meletakan kedua kakinya diatas kursi.Menyesuaikan dudukagar nyaman dan dapat tertidur sejenak sambil menunggu adiknya.
Tepuk tangan meriah disambut suit-suit para pemuda menggema sesaat setelah lagu berakhir dinyanyikan sang biduan. Rara mendesah.Ia ingin melanjutkan jogetnya, tapi kakaknya sudah mengajaknya pulang. Dia mundur dari kerumunan dan menuju kakaknya untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang keduanya bertemu dengan empat orang pemuda bercelana biru.Pemuda itu mencegat keduanya.Menggoda dan memaksa keduanya untuk ikut bersama mereka.Roro dan Rara jelas saja menolak.Tapi pemuda-pemuda tidak main-main, mereka memaksa dan menyeret kedua gadis itu bersama mereka.

Teriakan pilu Rara, memecah keheningan malam. Disampaing Pabrik Garam, diujung Pesisir kampung Rara memangku tubuh kakaknya yang telah berdarah tertusuk perutnya. Keduanya diperkosa, dan karena Roro melakukan perlawananakhirnya dibunuh dan setelahnya ditinggal atas kepanikan pemuda-pemuda itu. Malangnya Rara dibiarkan hidup dan menyaksikan kakaknya diperkosa lalu ditusuk oleh pemuda-pemuda itu.Sejak kejadian malam itu, Rara kehilangan jiwanya. Rara gila!
Tapi untungnya sebelum gila, Rara menuliskan sebuah naskah.Rara berusaha bercerita tentang kematian kakaknya yang diperkosa oleh pemuda-pemuda pesisir yang mengenakan celana biru.Dia menuliskannya diatas karung bekas pembungkus garam dengan tinta darah kakaknya.Naskah-naskah itu ditempel oleh Rara di dinding-dinding pabrik garam.Hampir menutup semua bagian dinding pabrik tersebut.
Lalu setelahnya Rara melepas semua pakaiannya.Tubuhnya yang kuning langsat dibiarkanya begitu saja terbuka.Perlahan Rara duduk disamping mayat kakaknya danmengoles darah kakaknya kesekujur tubuhnya. Kini tubuhnyaberubah menjadi merah dan berbau amis.

Saat matahari terbit dari singgah sana, Rara berjalan pulang menggendong mayat Kakaknya. Keduanya tanpa busana dan berlumuran darah.Dua gadis yang dipuji dengan keberkahan semesta kini menjadi seperti kutukan bagi orang-orang kampung. Beberapa pemuda berlari terbirit-birit saat melihat-nya, meski beberapa yang lain sempat mengintip bagian tubuh Rara yang tetap jelas telihat meski telah berlumur darah dalam temaram cahaya subuh. Tak ada yang berani mendekat.Bahkan orang-orang alim hanya menutup mata dan mengucapkan kalimat Tuhan tanpa melakukan apa-apa ataupun bertanya, saat Rara melewati Masjid menuju rumahnya.Semua orang sudah tak punya pandangan nurani lagi.

Sampai pada pintu depan rumahnya, Rara menendang pintu mencoba membangunkan isi Rumah. Perempuan dan Laki-laki Paruh baya yang adalah Ayah dan Ibunya, membuka pintu dan terbelalak menyaksikan kedua putrinya. Sang Ibu menjerit dan Pingsan seketika, sementara sang Ayah tak punya jantung yang cukup kuat untuk menyaksikan adegan mengerikan tersebut. Tak lama, kemudian kemanusiaan orang-orang kampungterutama tetangganya mulai terpanggil, lalu menghampiri rumah Kepala Desa, lebih karena tak enak olehjeritanIbu Kades dan ketakutan mereka kepada Kepala Desa.

Roro dan Rara terbaring dalam kasur putih, masih dengan tubuh berlumur darah.Hanya Roro terbaring dalam kematiannya yang menyedihkan, sedang Rara terbaring dengan kematian jiwanya ditinggal saudara kembarnya Roro.

Sekarang, akhirnya Kampung Pala berbau amis. Sayangnya bukan karena amis ikan, tapi amis darah Roro malang yang berbekas diudara.Juga coretan naskah darah Rara yang masih tertempel di dinding-dinding pabrik garam.Entah kenapa, tak ada satupun yang berani melepas naskah tersebut. Mungkin takut akan tuduhan bahwa yang melepas tulisan adalah pelaku pemerkosaan Roro.
Sekarang pabrik garam yang berdiri tak cukup kokoh itu, dengan dinding-dinding kayu rapuh berubah menjadi suram dalam kengerian naskah-naskah Rara.
Kami diperkosa oleh pemuda bercelana biru.
Vagina kami dicabik lalu ditusuk dan berdarah.
Sayak Kami dirobek tanpa ampun.
Jiwa kami kini mati.
Meski hanya aku yang masih bernafas!
Ingatan ku mencatat, Kami diperkosa oleh pemuda bercelana biru
               



[1]Dress perempuan dengan model pinggang yang ramping