Jumat, 18 November 2016

Jadikan Lemang Tapai Sebagai Ciri Khas Makanan Bengkulu dengan Menambah Berbagai Varian Rasa


Bengkulu, Siapa yang tidak mengenal Provinsi Bengkulu? Provinsi yang terletak di pulau Sumatera dan termasuk area Sumatera bagian Selatan ini merupakan salah satu provinsi yang besar akan kaya dengan alam dan pariwisata nya. Tetapi ada beberapa orang yang tidak mengetahui dimana letak provinsi ini.
Bengkulu merupakan wilayah yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil berdasarkan etnis seperti Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Pat Petulai, Kerajaan Balai Buntar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sekiris, Kerajaan Gedung Agung, dan Kerajaan Marau Riang. Majapahit sempat menguasai seluruh Bengkulu, kemudian lepas, setelah kerajaan besar ini runtuh. Sebagian wilayah Bengkulu juga pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Inderapura pada abad ke-17.
Bengkulu kemudian dikuasai Inggris dan memonopoli lada, namun wabah malaria yang terus menerus membuat Inggris berpikir kembali untuk menguasainya dan menganggapnya bukan wilayah yang menjanjikan. Meski sebelumnya ketika Sir Thomas Stamford Raffles datang ke Indonesia tahun 1818 sebagai wakil kerajaan Inggris dan sukses mengembangkan perdagangan lada di Bengkulu dan memerintahkan masyarakat Bengkulu menanam kopi, pala dan tebu. Setelah Perjanjian London tahun 1824, Bengkulu diserahkan ke Belanda, dengan imbalan Malaka sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik atau Singapura dan Pulau Belitung. Sejak perjanjian itu Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Pada tahun 1930-an, Bengkulu sempat menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pejuang kemerdekaan, termasuk Ir. Sukarno yang diasingkan ke sini tahun 1938-1941. Di masa inilah Sukarno berkenalan dengan Fatmawati yang kemudian menjadi isterinya.
Provinsi Bengkulu sangat mudah diakses melalui transportasi darat, udara dan laut. Anda dapat menaiki bus langsung dari Medan, Padang atau Jakarta. Setiap hari ada banyak maskapai penerbangan terbang ke Bengkulu. Namun jika Anda ingin menggunakan transportasi laut maka ada kapal laut domestik dari Jakarta, Padang dan Medan yang berhenti di Pelabuhan Baai, Bengkulu.  
Dalam segi pariwisata, provinsi Bengkulu memiliki berbagai macam pariwisata seperti danau tes Lebong, danau mas Curup, air suban Curup, air terjun kemumu Argamakmur, bendungan Seluma, pantai linau Kaur, tapak paderi kota Bengkulu, benteng malborough kota Bengkulu, pantai panjang kota Bengkulu dan masih banyak lagi. 
Salah satu pariwisata yang sangat terkenal di Provinsi Bengkulu ialah pariwisata pantai panjang. Pantai panjang merupakan pantai yang membentang di sepanjang pesisir kota Bengkulu sejauh kurang lebih 7km.
Sama seperti provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, provinsi Bengkulu juga memiliki wisata kuliner yang tentunya mempunyai keunikan rasa dan ciri khas daerah yang lezat. Wisata kuliner termasuk salah satu yang menunjang untuk membangun Bengkulu. Mengapa demikian? Karena industri kuliner cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Bisa kita lihat banyak sekali kafe, angkringan, dll yang di bangun oleh anak muda Bengkulu sehingga dapat memperluas lapangan pekerjaan yang baru. Bisa kita lihat menu-menu makanan yang terdapat di kafe, angkringan ini bervariasi, mereka mampu mengeluarkan kreatifitas mereka untuk bersaing secara sehat.
Salah satu kuliner yang dimiliki oleh Bengkulu adalah lemang tapai. Kuliner seperti apa sih lemang tapai ini? Kuliner lemang tapai berasal dari Kabupaten Bengkulu Selatan atau Manna. Lemang tapai sendiri adalah makanan yang sangat  lezat nan unik yang terbuat dari beras ketan putih dan dimasak di dalam ruas bambu yang dilapisi oleh daun pisang yang muda kemudian diberi bumbu-bumbu lainnya dengan cara dibakar, sedangkan tapai terbuat dari fermentasi beras ketan hitam dengan ragi yang prosesnya dapat memakan waktu 2-3 hari. Di Kota Bengkulu, lemang tapai termasuk salah satu menu makanan ketika berbuka puasa saat bulan Ramadhan, acara pernikahan dan menjadi salah satu kuliner yang paling di cari oleh masyarakat Bengkulu. 
Ada dua cara mengonsumsi lemang tapai ini. Pertama, keduanya diaduk menjadi satu seperti makan kolak ketan hitam yang langsung dicampurkan dengan lemang dan diaduk rata. Cara kedua, dengan mencocolkan lemang tapai yang diiris tipis pada ketan hitam. Lemang tapai ini juga enak disantap dengan durian.
Sangat disayangkan, kuliner seperti lemang tapai ini sangat jarang ditemukan di pusat-pusat kota kecil maupun kota besar. Di provinsi Bengkulu sendiri lemang tapai ini dapat dijumpai pada sepanjang jalan sungai rupat, karena mayoritas masyarakat di sana adalah penjual lemang tapai dan jika ingin melihat bagaimana proses pembuatan lemang tapai bisa di lihat langsung di tempat. 
Salah satu alasan yang memungkinkan lemang tapai ini tidak ditemukan pada pusat-pusat kota adalah masalah cita rasa, cita rasa yang kaku membuat pencinta kuliner ini hanya dari kalangan orang tua saja. Banyak para anak-anak, remaja tidak menyukai kuliner lemang tapai ini. 
Lemang tapai ini juga berpotensi menjadi salah satu makanan yang disajikan apabila terdapat acara seperti pertemuan-pertemuan pejabat daerah maupun negara apabila dikembangkan dengan baik dan benar. Dalam hal ini lemang tapai sangat berguna untuk memperkenalkan kota Bengkulu di kanca nasional bahkan internasional lewat kuliner. Selain itu, kita dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat Bengkulu dan tentunya bisa membangun Bengkulu lebih baik lagi. 
Adapun keunggulan-keunggulan lemang tapai varian rasa ini adalah:
1.       Dapat menggantikan makanan pokok untuk sarapan.
2.      Mempunyai keunikan rasa yang khas.
3.      Makanan dapat dikolaborasikan dengan berbagai jenis es krim.
Salah satu faktor yang bisa mendorong untuk membangun Bengkulu ialah partisipasi masyarakat Bengkulu harus kuat untuk melestarikan makanan tradisional sehingga produk lemang tapai varian rasa ini diharapkan menjadi menu utama kuliner daerah khas Bengkulu sehingga bisa memperkenalkan  provinsi Bengkulu di kanca nasional maupun internasional.
Wisata kuliner ini juga bisa kita kolaborasikan dengan pariwisata-pariwisata yang ada di Bengkulu. Di pantai panjang misalnya, banyak sekali kita lihat pengunjung yang datang dari luar provinsi bahkan dari luar negeri, tentunya kesempatan ini bisa kita gunakan sebagai tempat untuk mempromosikan kuliner lemang tapai ini karena Bengkulu mempunyai pontensi yang besar sebagai daerah tujuan wisata. Tidak hanya itu, kita bisa mempromosikan kuliner lemang tapai ini melalui media-media sosial yang sering kita gunakan terkhususnya untuk pemuda-pemuda Bengkulu.
            Oleh karena itu, sebagai salah satu pemuda kota Bengkulu, saya ingin mengajak pemuda-pemudi kota Bengkulu agar menyukai makanan khas daerah tradisional yang satu ini dengan cara memberikan varian rasa yang dipadukan dengan ice cream. Dengan menambahkan varian rasa dan memadukannya dengan ice cream, tentunya menjadikan makanan ini lebih lezat dan nikmat sehingga mampu memberikan daya tarik tersendiri bagi semua kalangan.
Dan untuk pemerintah provinsi Bengkulu agar dapat memberikan fasilitas berupa material dan non material serta mendukung para pemuda Bengkulu untuk berkreativitas demi memajukan Bengkulu ini. 
Hidup Rakyat Bengkulu, Bersamo Kito Maju!! (Riztika Yulva)



PUSPA LANGKA SEBAGAI IKON IDENTITAS BENGKULU



Jika seandainya anda bertempat tinggal di luar Bengkulu dan berencana berlibur, akankah anda memasukkan Bengkulu dalam daftar destinasi liburan anda? Atau jika seseorang memberikan paket liburan gratis ke Bengkulu, apa yang pertama kali terlintas di benak anda mengenai Bengkulu?
            Julukan “The Land of Rafllesia” sepertinya kurang didengungkan di telinga orang-orang yang menginjakkan kakinya di Bengkulu. Tidak banyak orang yang tahu bahwa bunga terbesar di dunia, bunga Rafflesia, tumbuh subur di tanah Bengkulu. Sangat disayangkan karena bunga Rafflesia dianggap sebagai identitas daerah Bengkulu bahkan juga menjadi ikon pariwisata.
            Bagi masyarakat Bengkulu, Rafflesia bukanlah sesuatu yang asing. Tapi bagaimana dengan para turis atau orang-orang yang sekadar singgah di Bengkulu? Apakah ada hal membekas tentang Bengkulu di benak mereka setelah menginjakkan kaki di Bengkulu? Sepertinya jawaban pertanyaan tersebut jauh dari kata “iya”.
            Seharusnya  untuk masyarakat Indonesia, bunga Rafflesia bukanlah hal asing dalam ilmu pengetahuan. Karena beberapa buku pelajaran baik di Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi banyak membahas tentang bunga Rafflesia. Meskipun tidak dibahas secara luas dan mendalam, tetapi sudah sepatutnya kita mengenal bunga unik ini.
            Mari berkenalan dengan puspa kebanggaan Bengkulu, Rafflesia arnoldii!
            Provinsi Bengkulu merupakan sedikit dari provinsi di Indonesia yang memiliki tumbuhan endemik pemecah rekor dunia. Warisan alam yang sangat mengagumkan tersebut adalah Rafflesia arnoldii, Amorphophalus titanum, Amorphophalus gigas, dan Gramatophyllum specium.
            Berdasarkan Kepres No. 4 tahun 1993 tentang satwa dan Bunga Nasional, bunga Rafflesia merupakan salah satu puspa langka dari tiga bungan nasional Indonesia mendampingi puspa bangsa (melati putih) dan puspa pesona (anggrek bulan). Sebagai masyarakat Bengkulu kita pasti bangga dengan tanah subur yang ditumbuhi puspa langka di Indonesia bahkan di dunia.
            Sejarah mencatat bahwa bunga Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 oleh Dr. Joseph Arnold dengan pemandu ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Nama Rafflesia arnoldii merupakan nama yang diberikan sesuai nama penemunya tersebut. Namun, ada masyarakat Bengkulu berpendapat bahwa Rafflesia arnoldiiditemukan pertama kali oleh penduduk asli Bengkulu karena mereka sering keluar masuk hutan untuk mencari makan. Tapi karena ilmu pengetahuan yang kurang memadai, mereka tidak menyedari bahwa yang mereka temukan itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa kelak.
            Secara morfologis, Rafflesia arnoldii memiliki bunga melebar dengan lima mahkota bunga. Bunga raksasa ini tidak memiliki batang, daun dan batang, jadi tanaman ini tidak melakukan fotosintesis. Bunganya berwarna oranye atau merah bata terang dengan bintik-bintik berwarna putih, memiliki masa pertumbuhan sekitar sembilah bula dan masa mekar hanya lima sampai tujuh hari. Meskipun terlihat cantik, bunga ini mengeluarkan bau menyengat sperti bau busuk yang berguna sebagai perangkap serangga yang dapat membantu penyerbukan. Unik bukan?
            Keunikan bunga Rafflesia arnoldii seharusnya menjadi “dongkrak” yang mengangkat nama Bengkulu di tingkat nasional bahkan internasional. Bahkan karena kelangkaannya bunga ini mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak, seperti Komunitas Puspa Peduli Puspa Langka (KPPL) yang berkomitmen mempromosikan keberadaan puspa langka Bengkulu ke dunia dan (WWF) yang melakukan koservasi terhadap Rafflesia arnoldii untuk melestarikan fauna langka yang ada di Bengkulu.
            Kita mungkin akan tercengang mendengar cerita dari Sofian Rafflesia, Koordinator KPPL, bahwa pernah ada seorang Pustakawan Biologi bernama Eiji Yokohama yang datang dari Tokyo, Jepang, ke Bengkulu utuk melihat puspa langka kebanggaan Bengkulu. Ketertarikan Eiji untuk melihat mekarnya bunga Rafflesia patut diapresiasi luar biasa. Masyarakat Indonesia saja belum tentu terpikir untuk datang menyaksikan merekahnya kelopak bunga Rafflesia yang tumbuh dan hidup di tanah bangsanya sendiri.
            Bunga Rafflesia arnoldii bukanlah satu-satunya bunga Rafflesia yang ada di Indonesia. Salah satu jenis Rafflesia lainnya ada di kebun Raya Bogor, yaitu Rafflesia patma tapi memiliki ukuran lebih kecil dengan warna merah puca dan bercak yang hampir tak terlihat. Saat Rafflesia patma mekar di kebun Raya Bogor pada tahun 2012, beritanya diumumkan di sepanjang jalan kota Bogor melalui spanduk-spanduk. Begitu antusiasnya masyarakat Bogor sehingga waktu itu kebun Raya Bogor dipenuhi pengunjung untuk melihat mekarnya Rafflesia patma.
            Diperlukan beberapa upaya untuk meningkatkan antusiasme masyarakat Indonesia bahkan dunia akan ketertarikan terhadap Rafflesia arnoldii. Pertama-tama yang harus ditingkatkan adalah antusiasme masyarakat daerah tempat tumbuhnya puspa langka ini. Salah satu cara terbaik adalah mempromosikan Bengkulu sebagai “The Land of Rafflesia” ke seluruh dunia. Saat ini memang telah banyak sekali pemberitaan tentang berbagai puspa kebanggaan Bengkulu, baik melalui internet maupun media cetak. Tapi diperlukan juga rasa berbeda yang akan membekas di benak orang-orang yang menapak tanah Bengkulu karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melihat mekarnya bunga Rafflesia.
            Mengangkat kembali peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 yang peringatannya diadakan di Bandung pada 2015 lampau. Banyak sekali ikon-ikon KAA di kota Bandung direvitalisasi seperti lampu-lampu, tugu dasasila, bola batu serta Tugu Global yang menjadi ikon baru kota Bandung. Berbagai ikon kebanggaan kota Bandung dibangun disepanjang jalan Bandung. Konferensi yang telah diadakan lebih dari setengah abad lalu itu seakan-akan hidup kembali di kota itu. Bukan main antusias luar biasa dari masyarakat, jalanan Bandung dipenuhi oleh orang-orang yang ingin merasakan langsung suasana KAA di Bandung. Tak hanya warga Bandung, banyak orang berdatangan dari luar Bandung bahkan tak sedikit pula wisatawan asing tertarik berkunjung ke kota itu. Bayangkan bagaimana antusiasme yang begitu besar yang terjadi saat itu. Bengkulu juga bukan tidak mungkin melakukan hal serupa, membangkitkan antusiasme dunia untuk melihat puspa kebanggan Bengkulu.
            Bengkulu dengan julukan “The Land of Rafflesia” sangat berpeluang untuk disuarakan di kancah internasional. Dianggap berpotensi juga karena banyaknya tempat wisata di berbagai daerah di provinsi Bengulu. Hanya saja diperlukan cara untuk mengkomunikasikan keindahan dan keunikan Rafflesia kepada wisatawan yang bekunjung ke Bengkulu. Rasa berbeda yang membuat mereka langsung mengenal bahwa Bengkulu merupakan rumah bagi empat tumbuhan endemik yang memecahkan rekor dunia dengan bunga terbesar Rafflesia arnoldii.
Selain meningkatkan promosi, ikon-ikon Rafflesia seharusnya lebih diperbanyak di berbagai tempat di Bengkulu, pada tempat wisata, bandar udara, angkutan umum, pinggiran jalan raya kota Bengkulu, bahkan halte dan berbagai tempat umum lainnya. Bisa saja ditumbuhkan dalam bentuk patung atau monumen yang dibangun di berbagai tempat wisata yang ada di provinsi Bengkulu. Atau memunculkan ikon ini di sepanjang jalan Suprapto, jalan Abidin dan berbagai jalan yang menjadi pusat keramaian di kota Bengkulu. Dan juga memperbanyak informasi berbentuk media cetak di jalan raya mengenai masa bertumbuh dan masa mekarnya bunga Rafflesia. Berjalan di jalan Bengkulu pasti dapat merasakan mekarnya puspa kebanggaan Bengkulu meski hanya replika semata.
            Dengan banyaknya ikon-ikon bunga Rafflesia yang ditampilkan, dapat dipastikan bahwa setiap orang akan mengenal Bengkulu sebagai buminya Rafflesia. Dampaknya akan sangat dirasakan dalam bidang pariwisata Bengkulu. Dengan meningkatnya antusiasme wisatawan terhadap wisata Bengkulu maka jumlah wisatawan yang datang ke Bengkulu pun dapat bertambah. Tentu saja wisatawan dapat merasakan liburan berkesan di Bengkulu, dan gema Bengkulu buminya rafflesia akan membekas di benak mereka.
            Memperkenalkan Bengkulu kepada dunia tentu membutuhkan beberapa upaya peningkatan berbagai sektor. Mulai dari berbagai fasilitas umum di berbagai tempat wisata hingga pelayanan masyarakat yang memadai. Fasilitas umum seperti transportasi, halte bus, tata pasar, lampu jalan, tempat sampah hingga pelayanan kesehatan harus ditingkatkan untuk kenyamanan para wisatawan. Termasuk juga salah satu permasalahan sampah yang patut mendapat perhatian khusus di Bengkulu. Apalagi sampah-sampah di berbagai tempat wisata Bengkulu khususnya di sepanjang wisata pantai. Pengunjung dan para pedagang sekitar tempat wisata seharusnya ditingkatkan kesadarannya untuk menjaga dan melestarikan kebersihan lingkungan. Salah satu upaya mengurangi sampah adalah dengan peningkatan fasilitas tempat sampah, karena masih jarang ditemukan tempat sampah memadai di sepanjang pantai wisata Bengkulu.
            Melihat dan menikmati banyaknya ikon bunga Rafflesia tentu akan membuat setiap orang yang menapaki tanah Bengkulu turut merasakan mekarnya puspa kebanggaan tersebut. Sehingga ada sesuatu yang mereka bawa sebagai oleh-oleh yang akan diceritakan dan dibagikan kepada sanak dan kawan, bahwa Bengkulu merupakan buminya Rafflesia.
            Suarakan Bengkulu kepada dunia, suarakan “The Land of Rafflesia”! (Elda Br Siagian)

Kamis, 17 November 2016

Apakah transportasi umum bisa jadi lebih baik?

            Bengkulu merupakan sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bengkulu. Dan provinsi ini terletak di bagian barat daya Pulau Sumatera. Bengkulu merupakan sebuah provinsi yang masih berkembang. Saya tinggal di Kota Bengkulu tepatnya di Penurunan. Kota Bengkulu punya beberapa angkutan umum ataupun angkutan kota. Seperti delman, becak, angkot, ojek, dan taksi.
            Angkutan umum seperti delman dan becak sekarang susah sekali dijumpai terutama becak. Mungkin bagi kita yang sering ke pasar, kita cukup sering melihat becak. Namun ketika kita ada di kota, akan sangat sulit untuk melihat becak. Lain dengan delman, bagi anda yang suka berlibur ataupun hanya sekedar jalan-jalan ke Pantai Panjang yang merupakan salah satu tempat wisata di Kota Bengkulu, kalian pasti sering melihat delman. Karena delman sekarang digunakan sebagai salah satu transportasi bagi para pengunjung pantai yang ingin mengelilingi pantai. Namun delman juga sering kita jumpai di pasar sama halnya dengan becak. Untuk tarif becak dan delman saya sendiri kurang tau karena saya sudah lama sekali tidak naik becak ataupun delman.
            Ojek lumayan susah untuk dijumpai di daerah tempat saya tinggal. Ojek biasanya membuat sebuah tempat yang dinamakan “pangkalan ojek” dimana orang-orang bisa menemui ojek di sana.  Ojek merupakan kendaraan umum beroda dua atau yang kita sebut motor. Saya pribadi bisa dihitung hanya berapa kali pernah berpergian dengan ojek. Karena dibandingkan dengan ojek saya lebih nyaman dengan menaiki angkot. Di sini tarif ojek sesuai dengan seberapa jauh dan seberapa dekat tujuan yang kita tempuh. Namun kita masih bisa tawar-menawar soal tarif dengan si pengendara ojek.
            Taksi muncul di Kota Bengkulu baru dalam beberapa tahun terakhir. Jika kalian pernah ke BIM (Bengkulu Indah Mall), kalian pasti sering melihat taksi menunggu penumpang tepat di depan pintu masuk utama BIM. Taksi di Kota Bengkulu yang pernah  hampir saya naiki tidaklah menggunakan argo. Mereka hanya menyebutkan tarif ketika saya menyebutkan tempat tujuan saya. Contohnya saja, sewaktu itu saya dan ibu saya ingin pulang ke rumah sehabis kami dari BIM, namun hari sudah cukup larut sehingga susah untuk mencari angkot. Di sini saya iseng mengajak ibu saya untuk naik taksi karena jarak yang dekat. Dan kami pun bertanya kepada salah satu supir taksi berapa tarif yang harus kami bayar jika kami menuju penurunan atas, dan dia menjawab seingat saya sekitar Rp 30.000,00. Warga Kota Bengkulu mana yang mau membayar tarif sebesar itu jikalau berjalan kaki dari bim menuju rumah saya hanya memakan waktu sekitar 20 menit.
            Angkot merupakan singkatan dari “Angkutan Umum”. Angkot tidaklah susah ditemui di Kota Bengkulu. Karena jika kita berdiri di pinggir jalan saja walaupun tidak sedang menunggu angkot, angkot akan menghampiri kita. Namun berbeda halnya jika kita tinggal di dalam gang. Kita harus berjalan keluar dulu hingga ke pinggiran jalan raya, dan barulah di sana Kita bisa menemui angkot. Angkot di Kota Bengkulu trayeknya bukan berdasarkan angka atau huruf, tetapi berdasarkan warna. Ada angkot yang berwarna biru, putih, hijau, merah, dan kuning. Untuk arah angkot berdasarkan warna ini pun saya kurang tau jalur dan daerah mana saja yang mereka lewati. Namun karena saya pernah bersekolah di SMAN 5, jadi angkot yang saya gunakan dari rumah saya ke sekolah adalah dua angkot yaitu kuning dan hijau. Dari rumah saya naik angkot kuning, lalu menyambung dengan angkot hijau di Suprapto, karena angkot kuning tidak melewati daerah sawah lebar dan sekitarnya. Dan karena saya sekarang sedang kuliah di UNIB, angkot yang saya naiki untuk menuju UNIB juga sama dengan sewaktu saya sekolah. Namun dari rumah saya menuju UNIB bisa memakan waktu 20 menit jika saya naik angkot.
            Tarif angkot saat ini menjadi masalah bagi saya dan warga lainnya. Karena angkot sekarang memungut tarif Rp 4000,00 untuk umum, Rp 3000,00 untuk mahasiswa, dan Rp 2000,00 untuk pelajar. Jika saya naik angkot selama 1 hari bolak balik dari rumah saya ke kampus dan sebaliknya, itu akan mengeluarkan biaya Rp 12.000,00 dan itu bisa untuk bensin seliter yang cukup untuk tiga atau empat hari. Bayangkan saja jika saya naik angkot selama 5 hari, saya sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 60.000,00 dimana itu sudah menghabisi setengah dari uang jajan saya.
            Cerita di atas benar jika saya setiap hari hanya bolak-balik kampus dan rumah saya. Namun berbeda halnya jika saya bepergian diluar jam kampus dengan menggunakan angkot. Di sini saya akan terkena biaya umum, dan si supir angkot tidak peduli apakah saya mahasiswa atau bukan. Contohnya saja, dari rumah saya ke BIM itu sangatlah dekat. Jika saya pergi dengan ibu saya, kami sudah mengeluarkan ongkos sebesar Rp 8.000,00 hanya untuk ke BIM yang jaraknya sangatlah tidak seberapa dari rumah saya. Sekarang ini banyak masyarakat mengeluh mengenai tarif angkutan kota yang satu ini. Karena tidak peduli apakah jarak yang ditempuh dekat atau jauh tarif yang kita bayarkan tetaplah sama. Selain tarif angkot, warga juga banyak mengeluh dikarenakan buruknya kondisi dari transportasi umum yang satu ini. Memang tidak semua angkot kondisi nya buruk, namun tetap saja di antara yang kondisi nya yang buruk itu rata-rata membuat para penumpang kurang nyaman.
            Sementara itu, akademisi Universitas Bengkulu, sekaligus pengamat transportasi dan Kebijakan Publik, Hardiansyah ST MT memprediksi Kota Bengkulu akan mengalami kemacetan parah pada 2017. Menurut dia, pada 2012, Kota Bengkulu sebagai ibu kota Provinsi Bengkulu sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda kemacetan. "Pada 2012 sudah mulai terlihat masyarakat semakin banyak menggunakan kendaraan pribadi dari pada kendaraan umum, pada 2013 kita harus menunggu dua kali lampu merah di perempatan jalan dalam kota kalau mau melanjutkan perjalanan, dan sekarang bisa menunggu tiga kali atau empat kali lampu merah menyala agar bisa melewati perempatan tersebut," ucapnya. Pada 2014 dan 2015, lama waktu tunggu perempatan jalan pun semakin bertambah, ini membuktikan masyarakat sudah meninggalkan model transportasi umum sebagai kebutuhan sehari-hari.
            Dari beberapa cerita di atas, saya sangat berharap pemerintah Kota Bengkulu bisa membuat transportasi yang efektif, nyaman, dan tentunya dengan tarif yang terjangkau. Di sini saya berharap pemerintah Kota Bengkulu bisa membuat transportasi layaknya busway yang ada di ibukota kita Jakarta. Namun alangkah baiknya jika bus ini menggunakan sistem yang digunakan Negara gingseng yaitu Korea Selatan. Jadi di sini saya akan menjelaskan sistem bus yang digunakan Korea dan saya sangat berharap hal ini bisa menjadi inspirasi untuk Kota Bengkulu dan tentunya bisa diterapkan. 
            Jalur pejalan kaki alias pedestrian di Korea Selatan sangatlah nyaman. Di sana hak para pejalan kaki sangatlah dihormati. Tidak seperti di Kota Bengkulu di mana trotoar yang seharusnya digunakan bagi pejalan kaki dan orang yang bersepeda, malah digunakan untuk berjualan dengan membangun kios-kios kecil. Namun di jalan raya Korea Selatan dikuasai oleh bus dan mobil. Karena bagi pejalan kaki dan orang yang bersepeda sudah ada jalurnya sendiri. Kendaraan roda dua di sana tidaklah populer seperti di Indonesia, kebanyakan digunakan untuk jasa antar barang atau sistem delivery.
            Nah, bus umum di sana berhentinya di halte. Dan setiap bus memiliki nomor yang mengklasifikasikan ke arah mana mereka “keliling”. Bus-bus ini hanya mengantarkan kalian dari satu halte bus ke halte bus yang lain. Yang terpenting tidak ada yang namanya kondektur. Begitu naik bus, kita masuk dari pintu depan, dan langsung membayar di alat di samping driver, dan untuk keluar gunakan pintu belakang yang terletak di tengah body bus. Jadi tidak seperti angkot yang hanya memiliki satu pintu sehingga berebut ketika ada yang ingin turun dan ada yang ingin naik. Bagaimana jika tujuan kita jauh dari halte bus? Tentu saja dengan jalan kaki. Jalan kaki merupakan hal yang sangat biasa di Korea. Dimanapun orang turun dari halte bus, mereka pasti berjalan kaki menuju rumah mereka atau tujuan mereka.
            Yang sangat saya suka dari bis di Korea Selatan ini adalah sistem membayarnya. Ada dua sistem pembayaran yang berlaku setiap kita menaiki bus ini. Yang pertama dengan membayar langsung dan yang kedua dengan menggunakan bus card. Opsi membayar langsung ini cocok bagi para turis dan bagi orang yang malas membuat bus card. Biayanya untuk naik bus ini rata-rata 1000KRW atau sekitar Rp 11.000,00. Dan soal kembalian uang kalian ketika membayar bus, tidak usah khawatir. Karena setelah kalian memasukkan uang kalian ke kotak khusus untuk membayar tunai, uang kembalian akan keluar dengan sendirinya namun dalam bentuk koin atau yang sering kita sebut uang receh. Namun dengan menggunakan opsi pertama ini kita akan membayar sedikit lebih mahal dibanding dengan mereka para pengguna opsi kedua. 
            Nah di opsi kedua ini tentu saja lebih efisien dalam jangka panjang. Kalian hanya perlu mengeluarkan uang untuk membeli bus card yang harganya paling murah 4000KRW atau sekitar Rp 44.000,00. Dengan bus card ini kalian tidak perlu membayar jika ingin transit dari satu bus ke bus yang lain. Cara penggunaanya, kalian tempelkan bus card pada kotak ber-angka digital yang ada di dekat pintu masuk bus, tentunya setelah kalian isi bus card kalian dengan uang yang bisa kalian lakukan di minimarket-minimarket terdekat. Jika kalian ingin transit, cukup tempelkan kembali bus card kalian ke “kotak digital” di dekat pintu turun (bentuknya sama persis dengan yang di pintu masuk) saat hendak turun. Setelah kalian tempelkan, ada jangka waktu tertentu agar kalian bisa transit gratis. Namun lebih dari jangka waktu tersebut, kalian perlu membayar lagi. Sistem kerja bus card ini lebih mirip pulsa, isi di minimarket terdekat, dan kartu inilah “tiket” kalian setiap naik bus di dalam kota.
            Sekian saran saya sebagai inspirasi untuk Kota Bengkulu, saya sangat berharap pemerintah bisa menerapkan sistem transportasi umum yang dapat membantu menghemat pengeluaran keuangan keluarga disaat semua harga kebutuhan pokok melonjak, termasuk bahan bakar minyak. Warga Kota Bengkulu butuh transportasi umum yang hemat, sehingga tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian sehari-harinya. (Meity Sela Fridasari)


“APEL UNTUK BONA”




Bona. Nama yang kudapatkan tiga tahun lalu ketika aku berhasil berdiri untuk pertama kali semenjak aku lahir. Satu-satunya pelajaran yang kudapat dari ibuku sebelum ia pergi meninggalkanku untuk selamanya karena menelan rumput beracun.
            Ingatan pahit kematian ibu terekam jelas dalam ingatanku. Ketika aku melihat ibu tercekik racun dalam tubuhya dan aku hanya bisa melihatnya dari balik kaki-kaki besar gajah dewasa lainnya. Ibu adalah satu-satunya sosok yang kucintai, kepergiannya meninggalkan luka dan mimpi buruk yang terus merajam pikiranku bagai duri semak belukar.
            Aku mengenal diriku sebagai sebatang kara yang tinggal bersama sekelompok gajah lainnya. Nama-nama yang kuingat tidak begitu banyak, hanya Nelson, Eva dan Niel yang kuingat, gajah-gajah dewasa yang ada dalam kelompok ini. Sedangkan anak-anak gajah lainnya, mereka sering memanggil namaku tapi tak satu pun nama mereka yang kuingat.
            Tanpa ibu, aku merasa sangat kesepian. Aku lebih suka menyendiri di bawah pohon atau dipinggir sungai, tidak seperti anak-anak gajah lainnya yang begitu semangat menjalani masa kecilnya. Selama tiga tahun aku belum bisa mengeluarkan diriku dari kesedihan, aku merasa sangat iri dengan mereka yang memiliki ibu yang selalu bersama mereka dan mengajarkan banyak hal. Aku merindukan ibu.

***
            Aku ingat hari ini aku berusia tepat tiga tahun. Tapi yang membuat hari ini terasa pahit, aku mengalami mimpi buruk semalam. Hari ini menjadi hari yang berat untuk kujalani, seperti biasa aku hanya menyendiri di bawah pohon rindang.
            “Ayolah, Bona. Kamu gajah jantan berumur tiga tahun, jangan bersedih terus, nak.” ujar Niel  suatu siang saat aku berteduh di bawah pohon rindang.
            Aku hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan gajah jantan dewasa itu.
            “Hei, Bona! Tolong ambilkan aku satu buah apel itu dong. Itu terlalu tinggi, aku sangat ingin memakannya, buahnya pasti enak.” Tiba-tiba seekor kelinci memintaku untuk menolongnya. Tapi aku tak menghiraukannya dan pergi meninggalkan Niel menuju tepi sungai.
            Di tepi sungai aku bertemu sapi, lagi-lagi ia memintaku untuk menolongnya memetikkan sebuah apel dari pohon di tepi sungai. Seperti sebelumnya, aku tak menghiraukannya dan berjalan menyeberangi sungai.
            Setibanya di seberang sungai, aku bertemu Eva, gajah betina dewasa yang sedang berdiri di bawah pohon apel. “Bona, tolong petikkan apel itu untukku. Aku sangat ingin memakannya, rasanya pasti enak sekali.” Aku bingung, Eva melakukan hal yang sama seperti si kelinci dan sapi. Dan yang membuatku bertambah bingung adalah bahwa Eva bisa memetik apel itu sendiri jika ia mau, karena ia punya belalai yang panjang untuk meraihnya.
            “Kau bisa melakukannya sendiri, lagipula belalaimu lebih panjang daripada belalaimu.” Aku menjawab seadanya.
            Tiba-tiba aku merasakan tubuhku didorong oleh belalai yang besar. Aku memalingkan mataku dan mendapati Nelson di sebelahku. Belalainya yang besar mendorong tubuhku mendekati pohon apel itu.
            “Mereka meminta tolong padamu, kawan. Persis seperti yang dilakukan ibumu dulu.”
            Mendengar kata-kata Nelson, aku tak mengerti. Apa yang dilakukan ibuku dulu?
            Nelson menghela napas dan berkata, “Sebelum melahirkanmu tiga tahun yang lalu, ibumu mengatakan kepada seluruh penghuni hutan ini bahwa ia akan melahirkan. Ia meminta tolong kepada kami semua untuk menjaga dan merawatmu. Kematiannya adalah kejadian yang tak pernah kami sangka. Pesan itu seperti pesan terakhir untuk kami menjagamu, Bona.”
Tubuhku kaku, ingatan pahit itu membuatku semakin terpuruk. Aku menangis dan meraung sejadi-jadinya, mereka yang melihatku hanya diam memperhatikanku. Ketika itu semua para penghuni hutan mendekati dan mengelilingiku, Nelson, Eva, Niel, juga si kelinci dan sapi yang kutemui juga berkumpul. Mungkinkah mereka yang dimintai tolong oleh ibu? Mereka yang selama ini tak kuhiraukan.
“Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk membalas kebaikan kami, anak muda?” tanya Nelson padaku.
Pertanyaan itu menghentikan tangisku. Aku berjalan mendekati pohon apel dan menggapai buahnya dengan belalaiku. Satu per satu aku bagikan apel itu kepada semua hewan yang berkumpul di dekatku, setelah semuanya mendapatkan aku pun menggenggam satu buah apel dengan belalaiku. Perlahan aku memasukkan apel hijau itu ke dalam mulutku, rasanya manis dan airnya menyegarkan tenggorokanku. Air mata kembali tak terbendung.
“Terimakasih. Terimakasih telah menjaga dan merawatku selama ini. Terimakasih untuk membantu ibuku. Maafkan aku selama ini tak menghiraukan kalian semua.” Aku berucap sambil menangis terisak, mengingat ibu yang sangat kurindukan.
“Sama-sama, Boni.” ujar mereka berbarengan.
“Selamat ulang tahun, Boni. Ayolah, gajah jantang tak boleh cengeng.” kata seekor gajah seumuranku.
Aku hanya diam, aku tak mengingat namanya.
“Aku Oba, ayo mandi ke sungai. Aku tahu kamu jarang mandi!” ucapan Oba sontak membuat semua tertawa.

Terimakasih. Senyum dan tawa kalian serta rasa apel hijau yang manis seperti menjadi obat mujarab yang menyembuhkan lukaku. Untuk seterusnya aku akan bermimpi yang indah. Terimakasih. 

Sabtu, 05 November 2016

Jurusan Ilmu Komunikasi UNIB Gelar Seminar Fotografi




Penyerahan Cinderamata
Cinderamata dari Perum LKBN Antara kepada jurusan Ilmu Komunikasi.Diserahkan oleh Andika Wahyu Widyantoro (kiri) kepada Dwi Aji Budiman (kanan).


BENGKULU - Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu menggelar seminar pelatihan bertajuk “Berkarir DiMedia Melalui Dunia Fotografi”, Senin (10/10), di ballroom hotel Putri Gading Pantai Panjang. Hadir dalam seminar ini Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Hajar G. Pramudiyasmono, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Dwi Aji Budiman , Sekretaris Jurusan Andi Makhrian,Kepala PerumLembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Biro BengkuluRiski Maruto, dosen-dosenIlmu Komunikasi ,dan peserta seminar, mahasiswaIlmu Komunikasi . Sebagai narasumber , pewarta foto divisi pemberitaan foto Perum LKBN Antara, Andika Wahyu Widyantoro
Dwi Aji Budiman mengungkapkan penyelengaraan ini sudah direncanakan oleh jurusan bedasarkan anggaran yang ada dan rutin diselenggarakan. Narasumber yang dihadirkan mampu memberikan pencerahan kepada mahasiswa.

“Kami menghadirkan narasumber yang pas. Dalam hal ini kami memandang Antara merupakan media yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mampu memberikan pencerahan kepada mahasiswa”tutur Dwi Aji Budiman, sebagaimana dilaporkan wartawan Bahana Suara Komunikasi (Baskom),Dio Eka Putra.

Melalui seminar yang digelar,jurusan Ilmu Komunikasi ingin memperkenalkan dunia nyata kerja dimedia saatini, khususnya fotografi jurnalistik.Seminar menjadi sarana sharing, berbagi pengalaman kepada mahasiswa bagaimana dunia jurnalistiksekarang. Tidak hanya memberikan gambaran fotografi jurnalistik, namunyang juga penting yaitu menumbuhkan dan mendorong semangat fotografi kepada mahasiswa.

“Ini memberikan gambaran kepada mahasiswa bagaimana dunia jurnalistik , seperti apa fotografi jurnalistik di Indonesia, dan bentuk fotografijurnalistik dikantorberita. Bagaimana gambaran nyata jurnalistik yang mahasiswa hadapi sekarang.” jelas Andika Wahyu Widiyantoro.

Peserta seminar antusias mengikuti jalannya kegiatan tersebut dengan memberikan beberapa pertanyaan disesi tanya awab.Dwi Aji Budiman mengungkapkan terimakasihnya atas kerja sama berbagai pihak dan berharap kegiatan ini bermanfaat bagi mahasiswa kedepan.

“Kami mengucapakan terima kasih kepada mahasiswa yang hadir secara keseluruhan, dan partisipasi dosen-dosen Ilmu Komunikasi . Tentu saya apresiasi pihak Antara yang bersedia mengirimkan narasumbernya. Tapilebih dariitu semua kerjasama dari semua pihak jugasaya ucapkan terima kasih, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi mahasiswakedepan.” ujarnya.

Review Film


Train to Busan (2016)
Sutradara                     :  Yeon Sang-ho
Penulis Naskah          
 :  Park Joo-suk
Produser                      :  Lee Dong-ha
Pemain                        :  Gong Yoo, Kim Su-ahn, Jung Yu-mi, Ma Dong-seok, Choi Woo-shik, Ahn So-hee,Kim Eui-sung
Perusahaan Produksi  :  RedPeter Film

 
Apa yang ada di fikiran kalian tentang Zombie? Pasti seseorang yang dulu sempat menjadi ‘manusia normal’ namun hidup lagi gara-gara terinfeksi suatu wabah. Mengerikan. Nah kalau Korea Selatan? Ah negara produsen merk gadget yang banyak dipakai oleh masyarakat zaman sekarang. Gimana kalau kedua objek itu digabungin? Boom,Train to Busan-lah jawabannya.
Film dibuka dengan seorang supir pengangkut barang yang sedang terlibat cekcok dengan petugas pengaman jalan. Setelah petugas jalan mengalah akhirnya sang supir dipersilahkan melewati jalan yang dilarang tersebut. Sang supir yang tidak memperhatikan jalan menabrak seekor rusa (yang saya kira awalnya adalah seekor anjing) Seusai mengecek kondisi mobilnya, ia pun pergi dengan tidak bersalah tanpa menoleh ke rusa mati. Namun,entah karena apa rusa tersebut bangun kembal berwujud layaknya zombie.
Nasib malang menimpa seorang pramugari sebuah KTX dengan tujuan Busan yang berusaha untuk menolong seorang wanita yang telah terinfeksi gigitan zombie. Alih-alih berhasil menyelamatkannya,namun malah ikut terinfeksi. Bagaimanakah petualangan survival seorang ayah yang sedang menemani anaknya yang masih kecil menemui mantan istrinya, sepasang suami dan istrinya yang sedang hamil tua,beberapa siswa SMA, nenek-nenek, dan tokoh antagonis, yaitu seorang businessman yang tingkat egoismenya sangatlah tinggi dalam menghadapi zombie-zombie yang semakin waktu jumlahnya semakin meningkat di dalam ruang lingkup gerbong-gerbong kereta?

Dari sini kita sudah mendapat kode kalau film ini akan ber-plot seperti film World War Z, seri The Walking Dead,dll. Bahkan beberapa pengamat film beranggapan bahwa ini akan menjadi World War Z versi Korea. Selain dari wajah aktornya yang tampan dan aktingnya yang patut diacungi jempol, CG yang tak kalah keren pun bisa menjadi daya tarik film ini. Terakhir, film ini dikemas dengan twist ending yang cukup membuat saya ber’wah’ ria. Salut buat Train to Busan!  (Arum)

Kamis, 07 Januari 2016

Pancaran Manikam

Oleh : Dwi Juliana Nastiti

Dian mengisi ruangan sempit itu
Waridku berhenti berdenyut
Ion-ion harapan merasuki pikiran
Jemari kecil menggoreskan tinta diatas putih
Untaian cerita dan harapansemakin terukir jelas
Lantunan doa memohon inayah kepada-Nya tak lupa kuhaturkan
Aku memang hanyalah seonggok batu
Namun, aku memiliki imipian bak sebutir berlian
Aku tak akan pernah berhenti bermimpi!
Nanah mengalir di pelupuk mata
Andai mereka tahu, caci maki itu merobek hatiku
Sayapku patah, namun aku tak akan pernah berhenti bermimpi!
Tunggu aku, akan kukepakan sayap ini ke tempat yang kutuju
Ingat aku, gadis lusuh yang  selalu kau pikir payah
Tunggu aku, kan ku genggam negeri ini
Inilah aku, gadis lusuh sejuta impian

Seduhan Rindu

Oleh : Dwi Juliana Nastiti

Aku menghitung hari di tengah riuh amarahmu
Aku masih membayangkan senyummu yang menggantung di benakku
Ia seakan menagih pelukan
Semoga waktu dapat mendamaikan retak dan tak lagi menjadikan hatimu membatu
 Agar kita kembali berebut peluk sampai hari tak lagi mengenal waktu
Sayang, jika aku pernah menitipkan janji yang mengikat pada temu, atau mengikat apa saja yang kita sebut manis
Maafkan aku yang tak mampu menepati
Sayang, terima kasih jika kau telah memaafkan aku yang tak dapat membujuk amarahmu agar tak lagi berkecamuk
Semoga kelak akan ada kita diantara aku dan kamu
Semoga kelak kita dapat kembali menikmati bersama seduhan rindu