Kamis, 07 Januari 2016

Pancaran Manikam

Oleh : Dwi Juliana Nastiti

Dian mengisi ruangan sempit itu
Waridku berhenti berdenyut
Ion-ion harapan merasuki pikiran
Jemari kecil menggoreskan tinta diatas putih
Untaian cerita dan harapansemakin terukir jelas
Lantunan doa memohon inayah kepada-Nya tak lupa kuhaturkan
Aku memang hanyalah seonggok batu
Namun, aku memiliki imipian bak sebutir berlian
Aku tak akan pernah berhenti bermimpi!
Nanah mengalir di pelupuk mata
Andai mereka tahu, caci maki itu merobek hatiku
Sayapku patah, namun aku tak akan pernah berhenti bermimpi!
Tunggu aku, akan kukepakan sayap ini ke tempat yang kutuju
Ingat aku, gadis lusuh yang  selalu kau pikir payah
Tunggu aku, kan ku genggam negeri ini
Inilah aku, gadis lusuh sejuta impian

Seduhan Rindu

Oleh : Dwi Juliana Nastiti

Aku menghitung hari di tengah riuh amarahmu
Aku masih membayangkan senyummu yang menggantung di benakku
Ia seakan menagih pelukan
Semoga waktu dapat mendamaikan retak dan tak lagi menjadikan hatimu membatu
 Agar kita kembali berebut peluk sampai hari tak lagi mengenal waktu
Sayang, jika aku pernah menitipkan janji yang mengikat pada temu, atau mengikat apa saja yang kita sebut manis
Maafkan aku yang tak mampu menepati
Sayang, terima kasih jika kau telah memaafkan aku yang tak dapat membujuk amarahmu agar tak lagi berkecamuk
Semoga kelak akan ada kita diantara aku dan kamu
Semoga kelak kita dapat kembali menikmati bersama seduhan rindu

Bidadari Di Hari itu

Aku tersenyum mendengar perkataan Aldi, dia begitu memikirkan siapa yang akan duduk di sampingnya nanti, Aldi begitu kwatir mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia duduk di samping ibu-ibu yang super duper gendut, mungkin berat badan ibu itu tiga kali lebih besar dari badan Aldi yang hanya seperti bila lidi.
Tin... tin...., nah itu dia travel yang akan aku naikki hari ini, aku menggendong tasku dan bergegas menuju ke mobil, aku akan pergi ke kampung halamanku di Bengkulu, ya kira-kira kalau dari kota palembang bisa mencapai dua belas sampai tiga belas jam ke kotaku. Itu hal yang sangat membosankan.
Aku duduk di mobil bagian belang, tentunya disamping Aldi.
“Dek dek,” pangil supir travel padaku, aku hanya menoleh.
“Kamu duduk di sini saja, biarkan ibu dan anak ini yang duduk di sana,” supir itu menunjuk ibu dengan dua anak itu, aku hanya mengangguk dan berpindah tempat ke depan, aku tertawa melihat muka Aldi yang merena, “Udah Di terimah aja itu udah nasip kamu,” kataku dalam hati, aku masih tertawa, tapi tiba-tiba ada yang mengubah tawaku menjadi sebuah senyuman manis, aku melihat bidadari cantik di depanku, ya tepat di depanku sekarang ini, jantungku bertetak kencang dan di telingahku terngiang lagu-lagu indah dan romantis seperti berada di tengah-tengah film india.
“Hey dek cepet sedikit,” seseorang memecah lamunanku, aku beranjak memduduki tempatku, kali ini rasa bosan selama perjalanan akan berubah menjadi rasa senangku. mobil melaju dengan keceptan sedang, aku tak berhenti untuk tersenyum apa lagi saatku lihat wajah polosnya saat tidur, kulitnya putih bersih, matanya belok, bibirnya tipis dan muka cubbynya. baru kali ini aku melihat wanita secantik dan seanggun dia, wanita yang kecantikannya tidak hanya terhilat dari parasnya saja tapi juga dari keimannan ya juga, terbukti dari dia menutup auratnya. Ahh sudahlah Fan wanita seperti dia mana mau sama laki-laki berandalan seperti aku. Aku tersenyum dan mencoba untuk menutupkan mataku hingga aku tertidur.
“Irfan Irfan bangun.” Suara itu terngiang di telingaku perlahanku buka mataku, di depanku sudah ada Aldi
“Emm, sudah sampai ya Di?” tanyaku setengah sadar
“Apanya yang sudah sampai Fan, masih lama banget sampainya,” jelas Aldi, aku masih terdiam dalam lamunanku
“Fan,” panggil Aldi
“Emm,” Jawabku singkat
“Ayo makan siang! Apa kamu mau tetap disini?”
Aku berdiri keluar dari mobil dan mengikuti langkah Aldi
“Eh Fan, cewek yang di samping kamu siapa namanya?” tanya Aldi, aku terdiam sejenak, “Oo iya-ya bidadari itu? Dimana Dia? Aku terlalu lerlelap sampai-sampai aku tak menyadari ada sesorang wanita di dekatku, bagaimana posisiku tidur tadi ya? Apa sangat memalukan? Ahh sudahlah,” pikirku dalam hati.
“Fan, kamu belum menjawab pertanyaanku,” tanya Aldi lagi
“Oo dia, aku tak tau siapa namanya,”
“Masa sih Fan?”
“kamu liat sendirikan Di? kerjaku hanya tidur selama di mobil, bagaimana aku tahu namanya dia saja tak pernah membuka mulutnya untuk bicara,” jelasku, Aldi hanya menganggukan perkataanku.
Buusst seseorang lewat dihadapanku, ya itu dia orang yang ku cari-cari, mataku selalu memandangi gerak gerik wanita itu dan ku liat dia memasuki sebuah musolah yang tak jauh dari rumah makan ini, aku melihatnya melaksanakan sholat, perempuan ini, disaat yang seperti ini masih saja menyempatkan waktu untuk bisa sholat, hal ini menambah kekagumanku lagi dan lagi, aku masih terus memantau gerak geriknya, tapi kok gerakan sholatnya tak sama seperti apa yang aku tau? Mengapa wanita ini hanya mengerjakan sholat dzuhur hanya dua rakat saja dan tunggu dia mengerjakan sholat lagi, aku memandanginya lagi dan tetap sama wanita ini hanya mengerjakan dua rakat lagi, apa yang dilakukan oleh wanita ini? Pertanyaan terus bermunculan di kapalaku, apa arti dari semua ini?
Setelah kira-kira satu jam aku dan rombonganku kembali memasuki mobil, aku melirik ke arah wanita itu, aku ingin mengobati rasa penasaaanku pada apa yang ia lakukan tadi, aku terus memandainya hatiku cukup berat untuk mengatakan keraguan ini, wanita itu menoleh ke arahku dan tersenyum,
“Kenapa ya mas?” tanya wanita itu.
Aku juga tersenyum, “Mbak muslim?” tanyaku
“Iya, kenapa ya mas?” jawabnya dengan lembut
“Tadi saya liat, kok mbak sholatnya aneh?”
“Aneh bagaimana? Coba di jelaskan saya tidak mengerti.”
Aku menghela nafasku, “Mbak kok mengerjakan sholat dzuhur dua rakaat salam dua rakaat salam? Bukanya sholat dzuhur itu di kerjaan dengat empat rakaat dan satu salam?”
Wanita itu tersenyum lagi, “Mas tahu istilah jama’?”
Aku hanya menggelengkan kepalaku
“Itulah yang disebut menjama’ sholat dimana kita mengabungkan dua sholat dalam satu waktu,” jelas wanita itu, tapi aku tetap tak mengerti
“Seperti yang mbak kerjakan tadi?” tanyaku lagi
“Ya seperti itulah.”
“Tapi mbak saya gak ngerti, bisa dijelaskan lebih rinci?” pintaku
“Menjama’ sholat itu ada dua macam, yang pertama jama’taqdim yakni dikerjakan dengan tertib misalnya zhuhur dahulu, kemudian ashar dan magrib dahulu kemudian isya’ dan yang kedua yakni jama’ ta’khir yakni mengerjakan sholat ashar dahulu baru kemudia zhuhur diwaktu ashar,” jelasnya panjang, aku hanya menganggukan kepalaku,
“Lalu, kenapa mas hanya melihat saya sholat kenapa mas tidak mengerjakannya?” aku terdiam sejenak
“Tapi bukannya kita sedang dalam perjalaan ya? Jadi bisa dimaklumin dong,” jawabku santai
“Ini yang salah, yang namanya wajib kita harus melaksanakannya, itu perintah langsung dari Allah, walaupun kita dalam perjalanan bukan berarti sholat itu menjadi sunah, yang wajib harus di kerjakan, oleh sebab itu Allah telah mempermudah kita untuk melaksanakan sholat, kita bisa menjama’ sholat atau mengqosor sholat, orang sakitpun masih wajib mengerjakan sholat apa lagi orang yang sehat seperti kita. bukankah itu sudah jelas Allah sangat ingin melihat hamba-hambaNya beribadah?”
“Mengqosor sholat itu apa?” tanyaku malu
“Mengqosor sholat itu ditunjukan untuk seseorang yang sedang berpergian, yaitu mempersingkat sholat wajib yang 4 raka’at menjadi dua raka’at, mengkosor sholat ini hanya bisa dilakukan untuk sholat 4 raka’at saja untuk magrib dan subuh itu tidak diperbolehkan.”
“Ya udah deh mbak makasih untuk penjelasaannya, nanti saya akan menjama’ sholat ashar sama magrib biar gak banyak yang terlewat.”
Wanita itu tersenyum sampul, “Mas, itu juga punya aturan kita gak bisa sembarangan aja menggabungkan sholat, sholat yang gak bisa di jama’ yaitu sholat subuh, zhuhur dengan ashar, magrib dengan isya’ kita enggak bisa menggabungkan magrib dengan asyar, itu bukan ketentuannya.”
“Oo jadi gitu ya? Oke deh mbak masih ya dan maaf atas ketidak tahuan saya.”
“Sama-sama,” wanita itu tersenyum padaku, aku membalasnya
Mengapa aku begitu begok untuk menyadari hal sekecil itu? Sebenarnya itu begitu memalukan untuk orang yang sudah balig sepertiku, bahkan dengan istilah-istilah yang seperti itu saja aku tak tahu, padahal aku tahu hal itu pasti pernah di pelajari semasa sekolah, tapi sayang aku begitu meremehkan pelajaran yang ku anggap tahu padahal sama sekali aku tak tahu apa-apa. Andai waktu bisa diulang aku tidak akan melakukan hal-hal bodoh semasa sekolah, aku akan memperhatikan dengan benar apa yang dijelaskan oleh guru-guruku, tapi sayang waktu itu tak bisa terulang yang ada hanyalah penyesalan yang tak bisa di ubah, sekarang hanya bisa mempelajarinya untuk yang ke dua kalinya.
“Terimah kasih,” kataku dalam hati, aku melirik ke arahnya tampaknya dia sedang menyaksikan keindahan alam perjalanan, aku tersenyum, “Kok bisa aku dipertemukan dengannya?” kataku dalam hati.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu perjalannanku kali ini sunggu sangat mengesankan, waktu menunjukan pukul 18:05 ini saatnya kami akan beristirahat makan dan sholat magrib, mobil berhenti tepat di depan rumah makan besar, suasanya begitu ramai aku turun dari mobil aku mengikuti langkah gadis itu,
“Mbak, mau sholat ya?” tanyaku padanya
Wanita itu menoleh kearahku, “Iya, kenapa? Mau ikut ya?”
Aku menganggukan kepalaku, wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum padaku, aku mengikuti langkahnya lagi, “Mbak nanti, sholat ya di jama’?” tanya ku
“Hah? Kenapa harus di jama’ mas?”
“Ya biar kita enggak ketinggalan sholat isya’,” jawabku
“Tapi kan sholat isya’ itu waktunya panjang, jadi bisa di pastikan kita akan sampai sebelum subuh, lebih baik sholat di wktunya masing-masing jika kita tahu kita akan sampai ke tempat tujuan sebelum waktu sholat itu berakhir,” jelasnya
“Jadi kita tak perlu menjama’nya?” tanyaku lagi, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya
“Ok itu artinya kita hanya mengerjakan sholat magrib tiga rakaat dalam satu salam?” tanyaku polos
“Iya, mas,” jawabnya singkat
Aku menuju kemasjid, dan melaksanakan sholat bersama gadis itu, keliahatannya aku dan gadis itu sudah semakin akrab, tapi ada yang kurang di sini, mengapa aku tak tau namanya? ingin ku beranikan diriku untuk bertanya siapa namanya, tapi lidahku terasa keluh untuk bicara hal itu, mengapa? Apa aku memang di takdirkan bertemu bidadari yang menyadarkanku akan pentingnya sholat dan tak ada alasan untuk meninggalkan sholat? apa memang dia yang di tujuk Allah untukku? aku ingin jika suatu saat nanti aku dan bidadari ini akan di pertemukan di suatu perjalanan yang lain entah itu dari kotaku di bengkulu atau dari kotanya di palembang? Entahlah bisa jadi pertemuan ini adalah pertemuan pertama dan terakhir aku dan dia.
Mobil melaju dengan pesat, mungkin sekitar 1 jam lagi kami akan sampai ke tujuan kami yaitu kota bengkulu dan dengan begitu aku tak kan bertemu dengan gadis cantik ini,
pertemuan ini membuatku malu dan pertemuan ini membuatku percaya akan cinta pada pandangan pertama dan membuatku sadar cinta Allah pada umatnya yang tiada duanya.
“Stop pak,” pintaku
Mobil berhenti, aku terdiam sejenak, aku keluar dari mobil dan begitu juga dengan gadis itu, aku megambil tasku, aku terdiam berfikir,
“Mbak, makasih ya,” ucapku, wanita itu tersenyum padaku
“Iya, sama-sama,” wanita itu memasuki mobil, aku melihat  mobil itu perlahan menjauh dari pandanganku semakin jauh-jauh dan menghilang, inilah akhir pertemuanku dengan bidadari itu, terimah kasih untuk seseorang yang ku sebut bidadari seseorang yang tak pernah ku tahu namanya tapi selalu ku kenang untuk selamanya itulah bidadari travelku. (Red_Baskom)

Ceritamu Menguatkan Ku

Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali semua yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada hidup adalah anugra
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Jangan menyerah jangan menyerah  ohh..
Lagu itu terdengar dari Mp3 ku, jadi teringat teman SMP ku dahulu, ia bernama Yossi seorang gadis sederhana dari keluarga yang berkecukupan, hidupnya lengkap mempunyai ayah, ibu dan juga seorang adik laki-laki semua keluarganya mencinyainya termasuk kami para sahabatnya, tapi ada yang membuatnya iri pada setiap orang, membuatnya mesara rendah didepan orang yang baru di temuinya, membuatnya merasa malu ditatap dengan tatapan heran semua orang yang melihatnya, dan membuatnya benci pada setiap orang yang mengejeknya dan berlagak manusia paling sempurna di dunia. Yossi terlahir dengan sempurna sama seperti manusia pada umumnya mempunyai tanggan, kaki, mulut, mata, hidung dan organ-organ lainnya, tapi ada yang membedakannya dari manusia lain bibirnya tebal dan ada bercak merah di mulut dan lehernya, hal inilah yang membuat orang melihatnya merasa jijik, aku tak munafik, akupun merasakan hal yang sama terhadap Yossi ketika melihatnya pertama kali di sekolahku rasanya aku tak mau kenal dengan orang seperti Yossi apalagi berteman dengannya, aku merasa malu, tapi Allah mengatur setiap pertemuan kami, mengatur setiap langkah yang kami lalui dan mengatur siapa saja yang akan menjadi bagian penting dalam kehidupan kami, Allah takdirkan kami bersahabat hingga aku tahu semua gundagulana yang ada dalam hatinya, hingga aku tahu betapa susahnya hidup sepertinya. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan “Mamble” Yossi dengan senang hati tersenyum walau banyak yang mengejeknya seperti itu. Kadang seseorang hanya bisa menilai dari luarnya saja dan tanpa mau tahu apa yang tersembunyi di dalamnya.
            Selepas SMP aku dan Yossi berbeda SMA baru beberapa minngu Yossi di SMAnya yang baru, ia sudah mendapatkan teman yang banyak, aku sangat bersyukur mendengar hal itu akan tetapi tak ada hal yang lebih sakit dari pada menjadi orang yang dimanfaatkan, tak ada yang benar-benar peduli, tak ada yang benar-benar tulus pada Yossi mereka hanya memanfaatkan Yossi , karena Yossi orang yang pandai, tangisan itu tak pernahku lupa, air mata dipipi Yossi telah menjadi dokumen yang tersimpan erat dalam benakku, rasa tak rela melihat sahabat sendiri diperlakukan layaknya seorang robot, tapi apalah daya hidup adalah hidup, hidup akan terus dijalani suka dan duka. Kata-kata Yossi selaluku jadikan pelajaran yang sangat berharga, Yossi pernah berkata padaku “Biarlah jika orang mau menganggapku apa, biarlah orang mencemoohku semaunya, biarlah jika tak ada orang yang mau berteman denganku, toh ada dan tidak adanya mereka, hidupku masih akan berjalan, mereka tak bisa menjamin jadi apa aku nanti, toh untuk apa aku perduli, hidup ini sudah ada jalannya sendiri-sendiri.”
Air mataku mengucur deras membasahi kedua pipiku, aku teringat kembali akan temanku yang satu itu, hal ini selaluku jadikan pelajaran agar aku selalu bersyukur bahwa Allah tak pernah tidur, Allah akan selalu melihat pengorbanan kita, Allah mendengar kita, Allah akan memberi yang terbaik, maka oleh itu bersyukurlah dengan apa yang telah Allah beri untuk kita, karna apapun itu pasti akan ada jalannya sendiri.
Kini tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Bu Guru Yossi, ia telah menjadi guru matematika di sekolahku dulu, ya disekolah favorit yang tak bisa ia masuki dulu dan sekarang ia bisa masuk ke sekolah itu sesuka hatinya, karna itu Allah telah merencanakan yang terbaik untuk kita dan Allah selalu mengingat hamba-hambanya. (Red_Baskom)