Senin, 20 November 2017

Pengalaman Berharga dari Kantor Berita Nasional

Perjalanan Studi Media Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMIKOM)

Pada hari Rabu (01/10/2017) saya beserta rombongan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi melakukan perjalanan ke Jakarta-Bandung. Perjalanan ini dilakukan dalam agenda studi media jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu. Studi media ini merupakan salah satu program kerja dari badan Penalaran & Keilmuan (PK) Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Tujuan utama studi media ini adalah untuk menambah pengetahuan seputar dunia komunikasi serta membuka cakrawala berpikir dari mahasiswa Ilmu Komunikasi itu sendiri. Ada beberapa tempat yang menjadi tempat kunjungan utama dalam perjalanan ini. Dua diantaranya adalah Kantor Berita ANTARA dan Harian REPUBLIKA. Bagi saya, tidak lengkap rasanya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang juga mempelajari ilmu Jurnalistik apabila tidak berkunjung ke pusat jurnalistik.

Kami memulai perjalanan pada pukul 10.00 WIB dari Bandar Udara Fatmawati Soekarno Bengkulu. Kami tiba di Bandar Udara Soekarno Hatta sekitar pukul 11.00 WIB. Kunjungan pertama kami yaitu ke kantor Berita Harian Republika. Seperti yang kita ketahui bahwa Republika merupakan salah satu koran nasional yang di ada di Indonesia, jadi kami merasa beruntung dapat berkunjung dan menimba ilmu disini. Di kantor harian Republika kami disambut dengan sangat baik oleh para staf dan pimpinan redaksi Republika. Di ruangan rapat kantor Republika kami mendengarkan penjelasan dari pimpinan Republika mengenai sistem pembuatan koran dan juga mekanisme wartawan dalam mencari dan mengolah berita. Peserta studi media pun aktif bertanya saat diberikan waktu tanya jawab. Dari perbincangan ini, ada beberapa hal yang saya dapatkan yaitu bagaimana menjadi seorang jurnalis yang memiliki kredibilitas yang tinggi, kerja keras serta bertanggung jawab merupakan hal terpenting dalam pekerjaan.

Menjadi seorang jurnalis bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah, melainkan kita dituntut untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Meskipun jurnalis bekerja dibawah tekanan, namun menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan yang menyenangkan dimana kita dapat terjun langsung untuk mencari berita, dapat bertemu orang-orang penting, berpetualang dan yang menjadi kepuasan tersendiri seorang jurnalis yaitu saat beritanya di publikasi dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi/berita. Setelah sharing dengan salah satu pimpinan Republika, kami juga berfoto bersama di depan gedung harian Republika yang bertempat di kawasan Jakarta Selatan ini.
Foto bersama didepan gedung Harian Republika

Selain ke Harian Republika, kunjungan inti lainnya yaitu ke Kantor Berita Antara. Kantor berita Antara yaitu satu-satunya kantor berita resmi yang berada dibawah naungan pemerintah Republik Indonesia. Sepak terjang Antara di dunia Pers Indonesia telah mengukir sejarah di buku catatan sejarah pers di Indonesia. Hingga saat ini Antara sudah memiliki usia 80 tahun atau 10 windu. Saat berkunjung ke kantor berita Antara, kami sangat terkesan dengan sambutan yang diberikan oleh pihak Antara. Kami disambut dengan sangat baik dan juga staf Antara yang sangat humble. Di kantor berita Antara, kami di suguhkan video profil Antara dan cuplikan video perjalanan Antara selama 10 windu. Di kantor berita Antara, kami melakukan sharing dengan Bapak Ahmat Wijaya selaku kepala redaksi Antara yang menjelaskan bagaimana proses Antara membuat dan menyebarkan berita. Diberitahukan juga  bahwa Antara Online melakukan publikasi hingga 800 berita setiap harinya. Bahkan, media lain pun banyak yang membuat berita yang bersumber dari Antara. Antara juga tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Termasuk juga diantaranya Bengkulu.

Dalam perbincangan kami, salah satu pembicara dari Antara yaitu Bapak Ahmat menjelaskan bahwa berkecimpung di dunia media merupakan bukanlah hal yang sepele. Konsisten menjadi seorang jurnalis itu sangatlah diperlukan. Tidak hanya lulusan jurnalistik ataupun komunikasi saja yang dapat menjadi seorang jurnalis. Dari jurusan lain pun tidak masalah kalau ingin menjadi seorang jurnalis, asalkan memiliki keahlian serta keseriusan untuk terjun ke dunia jurnalis. “menjadi jurnalis atau wartawan itu harus siap di segala hal. Siap untuk capek, siap untuk dipaksa, bahkan siap untuk bosan. Tapi menjadi wartawan adalah hal yang menyenangkan bagi saya”, ungkap Pak Ahmat. Selain melakukan sharing kami juga diajak untuk melihat ruang kerja Antara, ruang untuk koran, media online, dan juga untuk TV.


Saya sangat bersyukur dapat mengikuti perjalanan studi media ini. Melalui studi media ini saya dapat menambah pengalaman serta pengetahuan saya mengenai ilmu komunikasi yang ternyata sangat luas cakupannya. Saya harap studi media ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya untuk menambah wawasan mahasiswa ilmu komunikasi serta dapat mengenal praktek dari disiplin ilmunya di lapangan. 

Selasa, 07 November 2017

Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah Pengasingan Ir. Soekarno dapat dikatakan sebagai salah satu ikon sejarah paling terkenal di provinsi Bengkulu. Kota Bengkulu, tepatnya daerah Anggut, menjadi saksi hidup pengasingan Presiden pertama Republik Indonesia itu ketika ditawan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dari tahun 1938 sampai 1942. Tanah yang dikenal sebagai Bumi Rafflesia ini juga menjadi tempat dimana Bung Karno berjumpa dengan Ibu Fatmawati yang kemudian dikenal sebagai Ibu Negara Pertama RI.

Model rumah bersejarah ini dapat dikatakan modern, tetapi tetap terasa sentuhan tradisionalnya. Bangunan terdiri atas tanah seluas 40.434 m2  dengan bangunan utama rumah berukuran 9 x 18,5   meliputi teras depan, ruang tamu, ruang kerja, kamar tamu, kamar tidur, dan teras belakang. Bangunan ini ditetapkan menjadi Cagar Budaya pada tahun 2004 malalui Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Ketika pengunjung masuk ke dalam rumah ini, akan nampak aset-aset bersejarah yang menjadi saksi bisu pengasingan Bung Karno selama di Bengkulu.

Sebagian besar aset yang ada di dalam bangunan ini merupakan aset asli yang dulunya digunakan oleh Bung Karno dan keluarga. Mulai dari sepeda asli buatan Jepang, buku-buku bacaan, meja dan kursi, kostum-kostum perkumpulan Monte Carlo, serta aset-aset tambahan seperti foto-foto yang dipajang di setiap sudut ruangan akan membuka wawasan para pengunjung mengenai sejarah pengasingan Bung Karno.
Selama pengasingannya di Bengkulu, Bung Karno dan istrinya, Inggit Garnasih banyak memberikan kontribusi yang baik bagi masyarakat Bengkulu. Perlumpulan Sandiwara Monte Carlo, misalnya, merupakan perkumpulan yang didirikan untuk merangkul para pemuda untuk ikut berkesenian. Selain itu juga, kontribusi Bung Karno dalam menyumbangkan pemikirannya untuk merancang bangunan Masjid Jamik, yang juga menjadi salah satu ikon sejarah di kota Bengkulu.

Menurut pengakuan Roni Aprianto selaku petugas yang menjaga rumah pengasingan Ir. Soekarno tersebut, pengunjung yang datang cukup banyak. Baik dari dalam dan luar kota, dalam seminggu terdapat lebih dari seratus orang pengunjung dan biasanya rumah ini paling banyak dikunjungi pada akhir pekan dan hari-hari libur. Hal ini menunjukkan bahwa rumah pengaingan Ir. Soekarno masih menjadi pilihan tujuan wisata masyarakat, khususnya bagi mereka yang peduli terhadap pelestarian peninggalan sejarah.

Tarif untuk masuk ke tempat wisata sejarah ini cukup murah, hanya dua ribu rupiah untuk anak-anak dan tiga ribu rupiah untuk dewasa. Tapi perlu diingat oleh pengunjung untuk tidak merusak aset yang ada dan tidak membawa makanan serta melepas alas kaki saat berkunjung ke dalam bangunan. Letak rumah pengasingan Ir. Soekarno sebagai wisata sejarah kota Bengkulu juga berdampingan dengan wisata oleh-oleh khas Bengkulu. Bagi pengunjung yang datang dari luar kota, dapat dengan mudah memperoleh makanan khas Bengkulu, kerajinan kulit kayu lantung dan juga batik kain Besurek yang dapat dibawa pulang sebagai buah tangan.

Rumah pengasingan Ir. Soekarno telah mengalami beberapa kali pemugaran atau direnovasi untuk menjaga kelestariannya. Pemerintah terus berupaya untuk melestarikan bangunan dan aset-aset bersejarah di dalam rumah ini. Tinggal bagaimana kita sebagai masyarakat, khususnya masyarakat Bengkulu untuk lebih peduli terhadap peninggalan sejarah yang sangat berharga di provinsi ini.

Kamis, 26 Oktober 2017

Setiap masyarakat mempunyai tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat, meskipun kadang-kadang masyarakat tidak semua mengerti tentang apa yang dilakukan oleh nenek moyangnya. Pada sisi lain tradisi yang turun temurun pada masyarakat sejalan dengan kehidupan beragama. Adat kadang-kadang muncul sebagai medium pemersatu bagi masyarakat nya. Kebersatuan tersebut dapat dilihat ketika mereka melakukan seremonial tradisi, perbedaan latar belakang pemahaman bahkan keyakinan sekalipun dapat terlepaskan bila dibenturkan dengan aplikasi adat yang sifat nya mengakomodir seluruh masyarakat yang terkait. Pemandangan seperti ini dapat dilihat ketika perayaan tabot yang ada dibengkulu.
Saat ini seluruh masyarakat Bengkulu sedang mengadakan festival tabot yang setiap tahun diselenggarakan tepat nya pada tanggal 1 sampai 10 muhharam H (kalender arab). Festival tabot ini merupakan budaya masyarakat Bengkulu. Awal mulanya mengapa ada tabot dibengkulu adalah untuk memperingati gugurnya amir hussain, cucu nabi  muhhamad SAW, dipadang karbala irak. Ada kepercayaan di masyarakat Bengkulu jika tabot ini tidak diselenggarakan maka akan terjadi musibah ataupun bencana.
Sejak tahun 1990 pesta budaya tabot ditingkatkan menjadi festival wisata di provinsi Bengkulu dan telah menjadi budaya bagi masyarakat Bengkulu. Dalam festival tabot ada sebuah perayaan yang awal nya hanya berisikan upacara-upacara ritual yang ditambah dengan beberapa atraksi tambahan yang untuk gunanya untuk menghibur masyarakat dan wisatawan yang berkunjung. Tabot sendiri dilaksanakan selama 10 hari disitu masyarakat dan wisatawan dapat menyaksikan rangkaian ritual tabot dan dapat menikmati pergelaran seni budaya serta lomba-lomba kreasi seni tradisional Bengkulu.
Kata tabot itu sendiri berasal dari kata At-tabut yang artinya kotak atau peti. At-tabut sudah ada sejak zaman musa dan harun, pada masa itu at-tabut dibawa turun kebumi oleh malaikat. At-tabut ini adalah peti atau kotak untuk menyimpan jenazah pemimpin mereka. At-tabut dalm bentuk lain muncul pada waktu terjadi perang antara amir Hussein (cucu nabi Muhammad SAW) melawan kaum khawarij dipadang karbala irak. Dalam pertempuran di karbala amir Hussain dan pengikutnya mengalami kekalahan Karen jumlah pasukan mereka tidak seimbang. Amir Hussein sendiri gugur dengan tangan dan kepala yang terpisah dari badan. Tubuh amir hussain yang sudah tidak berkepala dan bertangan itu ditemukan oleh pengikutnya, maka turunlah bangunan aneh yang sangat indah dan mengankat tubuh amir hussain.
Para pengikut amir hussain menyayangkan pemimpin mereka ikut bergelantungan dibangunan yang indah itu dan terdengar suara yang berkata: “ kalau kamu saying kepada hussain, buatlah banguan berbentuk indah ini setiap sepuluh hari dalam bulan muhharam guna mengenang para syuhada yang gugur dipadang kurbala. Bangunan yang indah itu yang mengangkat tubuh hussain itu kemudian disebut tabot (dalam  dialek bahasa Bengkulu). Sejak saat itulah tabot dilaksanakan selama 10 hari dalam bulan muhharam oleh pengikut hussain.
Mungkin masih banyak diantara kita yang belum tahu tentang budaya yang sangat cantik, khas didaerah nya. Budaya yang satu ini bernama tabot, budaya khas asli diprovinsi Bengkulu, sebenarnya ada beberapa peralata yang harus dipersipkan dalam acara tabot ini seperti: pembuatan tabot, kenduri dan sesaji, perlengkapan music tabot, dan perlengkapan yang ilainnya yang diperlukan dalam acara tabot. Tabot sendiri juga kaya akan seni dan musik. Dalam perayaan tabot pelancong akan dapat melihat dan mendengarkan seni musik yang memiliki citra seni tersendiri seperti doll dan tassa. Alat music dalam upacara tabot ini biasanya ditabuh oleh seorang yang ahli dan trampil sehingga menghasilkanirama yang menggema menyerupai genderang perang.
Seni tari yang ditampilkan dalam perayaan Tabot juga memancarkankeunikan tersendiri. Para penari yang membawakannya berasal keluargakerukunan Tabot. Mereka membawakan tari telong-telong dan tari ikan-ikan,sebuah tarian-tarian yang dianggap wajib pada setiap kali perayaan Tabot. Berdasarkan kenyataan ini, tabot merupaka suatu kegiatan yang menarik untuk dilihat dan disaksikan karena mempunyai nilai-nilai budaya tinggi dan menyajikan berbagai cabang seni. Secara positif pelaksanaan tabot akan menumbuhkan motivasi bagi masyarakat untuk menghargai sebuah karya seni dan memberi peluang berkembang nya seni dan keterampilan.

Perayaan tabot sendiri berdampak positif dalam mebangun kerukunan lintas suku dibengkulu, karena tokoh-tokoh suku dibengkulu diundang menghadiri acara ritual tabot, meskipun belum mengakomodasi berbagai unsur adat yang berkembang dibengkulu. Tokoh agama yang diundang biasanya pada acara pembukaan dan pembuangan tabot. Secara umum tokoh agama dan pemuka masyarakat mengapresiasi positif terhadap keberadaan tabot sebagai sebuah asset budaya dari Bengkulu sekaligus potensi andalan Bengkulu. sebagian ulama memperingatkan agar kemasan atau prosesi tabot yang bernuasna mistik dikurangi atau bahkan dihilangkan karena akan berpotensi mejerumuskan akidah umat. Perayaan tabot juga mendatangkan rezeki bagi pedagang-pedagang kecil semua itu terjadi karena arus kedatangan para pengunjung baik dari dalam maupun luar provinsi Bengkulu, dampak nya akan meningkatkan volume usaha dan pendapatan pedangan, usaha jasa angkutan, retribusi daerah setempat. Untuk itu diperlukan komitmen, kemaun dan kemapuan oleh pemerintah dan rakyat.

Lepas Tabot Terbitlah Sampah


Bicara tentang budaya, ada salah satu budaya yang sangat identik dengan Bengkulu bahkan bisa dikatakan menjadi destinasi wisata budaya tahunan yang bisa di “jual” sebagai wonderfull Bengkulu. Diadakan setiap 1-10 Muharram dengan rangkaian kegiatan di dalamnya membuat banyak turis baik luar daerah hingga Turis nasional rela datang untuk melihat momen tahunan ini. Benar sekali, Tabot menjadi budaya yang sampai saat ini masih melekat sebagai ciri khas Bengkulu, malam tabot bersanding menjadi tujuan utama bagi mereka yang datang.
Layaknya momen lain yang mengundang orang banyak pastinya dimanfaatkan pedagang untuk berjualan dan meraup keuntungan, hal ini juga berlaku di festival tabot setiap tahunnya. Berdagang ini dan itu, menjual setiap yang menghasilkan dan untuk mereka yang kelaparan mata ini menjadi surga yang tak bisa dilewatkan. Haus dan lapar ketika berkeliling, memilih makanan dan minuman, membeli tanpa berpikir. Setelah hilang dahaga dan kenyanglah perut sisa makanan dengan plastik tempatnya ditinggalkan, dibuang tanpa ditoleh kembali.
Seperti telah menjadi budaya atau hal yang memang sudah melekat, permasalahan sampah seperti gunungan es di lautan. Sedikit yang terlihat namun serius jika ditelusuri. Menjadi rahasia umum memang jika kesadaran membuang sampah di Indonesia semakin menghilang. Bahkan ada yang berpura-pura tidak mengetahui malah saling menyalahkan untuk sampah yang sebenarnya mereka produksi sendiri. Saling tuduh dan menyalahkan ketika kemudian ditanyakan “sampah itu tanggung jawab siapa?” merasa bukan dia yang membuat tumpukannya tapi dia yang memulainya.
Lihat disepanjang jalan tabot dilalui, lihat ditempat tabot bersanding, lihat ditempat festival berlangsung setiap jangkahnya setiap sudutnya ada sampah yang ditinggalkan oleh pemiliknya, dibiarkan membusuk dan kotor. Bahkan berdasarkan hasil pemantauan saat festival tabot berlangsung di Bengkulu beberapa waktu yang lalu, jumlah sampah yang dihasilkan menyamai jumlah produksi sampah kota Bengkulu dalam satu hari.

Kemudian masyarakat hanya bisa saling tuduh dan menyalahkan, padahal ini merupakan tanggung jawab bersama. Sandingkan antara pemerintah dan aturannya, masyarakat dan kesadarannya serta bagaimana kita sebagai manusia saling menjaga.

Tabot, Tradisi Sakral atau Pesta Rakyat?


Seiringan dengan perjalanan waktu, upacara Tabot ini akhirnya berkembang dalam bentuk atraksi budaya dan hiburan rakyat di Bengkulu. Pada  awalnya inti dari upacara Tabot adalah untuk mengenang upaya pemimpin Syi'ah dan kaum nya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamnya di Padang Karbala. Banyak kritikan dari berbagai elemen masyarakat terhadap pelaksanaan upacara Tabot. Satu hal yang paling mendasar dari semua kritikan tersebut adalah berubahnya fungsi upacara Tabot dari ritual bernuansa keagamaan menjadi sekedar festival kebudayaan . Hilangnya nilai-nilai sacralitas upacara Tabot semakin diperparah dengan munculnya apa yang kemudian dikenal sebagai Tabot pembangunan (Tabot yang keberadaannya karena diprogram oleh pemerintah dan berjumlah banyak). Karena dalam rangka pembangunan kepariwisataan nasional dan daerah, pemerintah melihat tabot sebagai salah satu potensi terbesar yang diharapkan dapat menarik kunjungan wisatawan ke Bengkulu, baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dari sudut pandang KKT tradisi acara Tabot di Bengkulu tak boleh ditinggalkan dan harus dilaksanakan setiap tahun oleh para keturunan ahli waris Tabot. Karena mitosnya jika tidak terlaksana akan menimbulkan bencana atau musibah terhadap KKT dan juga masyarakat Bengkulu.  Sedangkan dari sudut pandang masyarakat dan pemerintah, Tabot merupakan event, pesta, festival, seni pertunjukan tahunan yang menjadi aset kebudayaan masyarakat di Bengkulu . Berubahnya fungsi Tradisi Tabot dari ritual bernuansa keagamaan menjadi  festival kebudayaan ini nampaknya disebabkan oleh kenyataan bahwa yang melaksanakan upacara Tabut adalah orang-orang non-Syiah dan juga karena adanya campur tangan pemerintah (Tabot Pembangunan). Maka upacara Tabot  menjadi sekedar festival budaya yang kehilangan makna dasarnya, tetapi memberikan dampak untuk pengembangan kebudayaan daerah Bengkulu.



Keunikan Tradisi Tabut Sebagai Pesta Rakyat Kota Bengkulu


Description: C:\Users\LelaMagrifoh\Downloads\2017-10-02-PHOTO-00000018.jpg

Tabut adalah salah satu tradisi yang dimiliki dan dipercayai oleh warga kota Bengkulu. Tabut digambarkan dengan adanya sebuah perayaan yang diberlangsung selama 10 hari yang dimulai pada tanggal 1 muharram. Selain sebagai tanda penyambutan tahun baru islam, tabut juga diadakan untuk memperingati wafatnya Imam Hussain, cucu Nabi Muhammad Saw yang meninggal di Karlaba, Irak.
Setiap tahunnya Festival Tabut disambut baik oleh masyarakat bengkulu. terbukti dengan banyaknya kunjungan masyarakat setiap harinya terutama di malam hari. Festival yang diadakan setahun sekali ini banyak dimanfaatkan oleh masyrakat bengkulu untuk meraup keuntungan dengan menjajahkan berbagai macam dagangan mereka, mulai dari makanan, baju, sandal bahkan tas, serta pernak pernik khas tabut seperti gantungan kunci, gelang, kacamata dan lainnya. Tidak hanya berupa barang tentunya pengunjung akan disajikan dengan berbagai macam jajanan tradisional dari daerah kota bengkulu ataupun dari luar kota bengkulu.
Bagi pemerintah festival tabut ini akan menambah pendapatan daerah, ditandai dengan adanya pertambahan wisatawan asing dan mancanegara yang datang dan menyaksikan rangkaian acara dalam festival tabut yang ada tentunya akan dengan mudah menarik pengunjung dari luar kota bahkan luar negeri untuk datang dan menyaksikan festival ini. “ini kunjungan pertama saya ke bengkulu, karena kemaren saya liat foto teman saya sedang berada di sini, sedang menyaksikan pembukaan dari festival ini, ramai sekali dan ada banyak sanggar yang ikut memeriahkan festival ini, warga sangat kompak dalam acara ini, salut.” ujar Maria salah satu pengunjung yang berasal dari kalimantan.


Perancangan Pusat Kebudayaan Tabut Dengan Pendekatan Transformasi


Design Of Ark Cultural Centre Based On Transformation Method
Description: C:\Users\aa\Downloads\IMG_0444.jpg    

Kebudayaan Tabut masuk ke kota Bengkulu melalui suku Sipai yang menjadi prajurit pada masa kolonial Inggris. Saat ini dibutuhkan sebuah fasilitas Pusat Kebudayaan Tabot yang juga berfungsi sebagai ruang terbuka publik. Fungsi Pusat Kebudayaan Tabut diambil dari kebutuhan untuk aktivitas sehari-hari masyarakat budaya kota Bengkulu seperti ; melakukan kegiatan kerajinan tangan, kegiatan seni dan tari-tarian, serta pameran hasil kerajinan sebagai aksi untuk melestarikan budaya Tabut tersebut. Kebutuhan untuk aktivitas bulanan lebih pada pengakomodasian kebutuhan pemerintah dalam menstimulan aktivitas-aktivitas budaya masyarakat kota Bengkulu sehingga dibutuhkannya ruang yang fleksibel berupa plaza-plaza. Kebutuhan untuk aktivitas tahunan sebagai area yang berfungsi untuk menstimulus kegiatan tahunan upacara tradisi Tabut, kegiatan ini bersifat masal dan memerlukan sebuah fasilitas pertunjukan seni dan budaya serta kebutuhan untuk upacara ritual perayaan Tabut. Pusat Kebudayaan Tabut ini juga memiliki nilai filosofi berfungsi sebagai penguat identitasnya sehingga perancangannya Pusat Kebudayaan Tabut memiliki unsur dasar yang dapat digunakan untuk mengembangkan identitas tersebut dengan pendekatan Transformasi. Transformasi yang bisa kita lihat dari kebudayaan tabut ini adalah dari yang awalnya tradisional yang  sangat kental menjadi modern tradisional yang masih sangat terasa kental dalam pelaksanaannya untuk melestarikan cagar budaya Kota Bengkulu. Maksudnya transformasi tidak bertujuan untuk mengubah arti yang aslinya, disini transformasi membuat pengembanngan dari tradisi yang asli agar membuat masyarakat tertarik untuk mengikuti tradisi ini.  Gabungan dari musik-musik modern yang dicampur dengan musik-musik tradisional menambah kemeriahan dari perayaan tabot.
Pusat Kebudayaan Tabut adalah pengembangan kawasan Tapak Paderi sebagai Central Tourism District (CTD). Marina Tapak Paderi telah terbentuk secara alami sebagai ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat Bengkulu tetapi fasilitas yang ada belum mampu mengakomodasi kebutuhan pengunjung. Observasi dan analisis tersebut mencakup kenyaman fisik untuk meningkatkan kualitas ruang publik yang terdiri dari ; sosial, phiskologi, relaksasi, interaksi dan perubahan kualitas fisik akibat perubahan aktivitas. Observasi dan analisis juga dilakukan terhadap nilai-nilai hak dari pengunjung untuk mengakomodasi kebutuhan emosional pengunjung. Nilai-nilai observasi dan analisis tersebut terdiri dari akses pengunjung kedalam tapak baik visual, fisik maupun simbolik. Kebebasan bertindak pada kawasan tersebut dengan batasan berupa peraturan, tatanan fisik, kenyaman psikologi, klaim kepemilikan lahan karena kebutuhan, emosional, dan administratif.

  Konsep perancangan terdiri konsep umum dan spesifik. Konsep umum terdiri dari ide penggabungan metode transformasi dan metode perancangan ruang publik. Konsep spesifik terdiri dari orientasi dengan membuat garis aksis untuk menstukturkan ruang yang asimetris. Pertemuan aksis tersebut dibuat node sebagai orientasi. Zona fungsi disesuaikan dengan aktivitas. Fungsi rekreasi pada daerah yang berdekatan dengan vista alami. Zona publik pada bagian tengah Tapak dengan pertimbangan fleksibilitas ruang, Zona fungsi budaya berada mengelilingi untuk memperkuat nuansa budaya sebagai usaha membentuk citra dan identitas Pusat Kebudayaan Tabut. Zona komersil pada aksis utama entrance agar menarik pengunjung. Sirkulasi dan parkir diakomodasi di luar site. Pengutamaan sirkulasi pejalan kaki pada area promenade di sisi laut, dengan pertimbangan kenyamanan, memperkuat pengarahan ruang dan pemisahan dari kendaraan. Elemen ruang publik terdiri dari elemen untuk aktivitas budaya, berupa panggung, sculpture untuk memperkuat citra budaya Tabot dan sculpture yang berfungsi memperkuat vista serta tenda makanan. Vegetasi berfungsi sebagai buffer dari potensi negatif lingkungan, pelindung untuk kenyamanan termal, terjadinya interaksi pengunjung. Perdu dan tanaman hias sebagai pembatas akses fisik dan meningkatkan vista. Transformasi dan tatanan multimasa adalah sebuah konsep yang memperlihatkan proses pendekatan tranformasi dan pola pengabungan dari seluruh fasilitas Pusat Kebudayaan Tabut.


Festival Tabut Berbeda Dari Tahun Sebelumnya


Festival Tabut merupakan acara tahunan yang di adakan di Kota Bengkulu dalam menyambut satu Muharam. Festival Tabut ini sendiri di jadwalkan akan berlangsung mulai dari 1 sampai 10 Muharam yang bertepatan dari tanggal 21 september sampai 30 September 2017 yang berlokasi di Lapangan Merdeka Kota Bengkulu. Festival tabut tahun 2017 di buka oleh PLT Gubernur Bengkulu dan untuk  penyelenggaraan tabut tahun ini di kembalikan pada Kerukunan Keluarga Tabut (KKT). Pemerintah bekerja untuk membuka acara serta menyediakan fasilitas seperti lokasi tempat Tabut dilaksanakan sedangkan untuk penyelenggaraan festival ini diserahkan sepenuhnya kepada KKT. Meski tanpa campur tangan pemerintah pelaksanaan Tabut sendiri berjalan dengan baik dan lancar. Dimana dalam acara tersebut juga mengadakan lomba kesenian daerah Bengkulu seperti tarian daerah Bengkulu. Dengan adanya lomba-lomba kesenian daerah seperti ini akan semakin menambah daya tarik bagi para wisatawan selain dari perlombaannya ada juga pasar rakyat atau bazar yang menjadi daya tarik wisatawan untuk hadir di festival tersebut. Dalam pasar rakyat atau bazzar ini pedagang banyak menjual jajanan pasar atau kuliner yang murah meriah sehingga menarik minat pelanggan, ada juga yang menjual tas, sepatu, serta jam tangan yang lebih murah dibandingkan biasanya. Stan yang seperti ini menjadi buruan wisatawan khususnya mahasiswa. Disamping itu dalam festival ini yang paling menarik minat dari wisatawan adalah permainan Kora-Kora. Permainan Kora-Kora ini sendiri dibandrol dengan harga Rp.10.000 dan wisatawan sudah bisa menaikinya.  
Namun terdapat beberapa perbedaan dari pelaksanaan Tabut sebelumnya  seperti berkurangnya stan penjual pada festival tahun ini karena di tahun sebelumnya stan penjual itu sampai memenuhi badan jalan untuk meramaikan festival ini. Festival Tabut tahun ini juga kurang didukung oleh cuaca karena beberapa hari selama festival berlangsung hujan terus turun dari pagi sampai malam dan ini yang menjadi keluhan dari pedagang karena membuat stan mereka sepi pengunjung. Wisatawan biasanya lebih banyak datang pada malam hari sehingga jika hujan lebat pasti wisatawan semakin berkurang dan mengakibatkan pendapatan dari pedagang yang membuka stan di sana menjadi menurun juga dari tahun sebelumnya. Meskipun begitu festival ini tetap berjalan dengan baik dan meriah. Karena festival ini juga digelar untuk melestarikan serta mengembangkan budaya Bengkulu. Harapannya semoga festival Tabut ini dapat menarik perhatian para wisatawan dari luar Kota Bengkulu, bahkan dari Mancanegara