Senin, 08 September 2014

Nyaman


Ditengah terik dan panasnya teriakan protes dalam aksi demo pelataran gedung mewah Legislatif daerah Bengkulu. Akhir-akhir ini kasus kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat. Majalah, Koran ataupun pemberitaan dimedia-media mainstream sibuk memberitakan kasus-kasus baru tentang pemerkosaan atau pencabulan terhadap perempuan. Sepertinya dunia memang sudah mendekati deadline kiamat.
Citra, perempuan “jalan” ini masih saja setia dengan toa nya, membacakan lembaran-lembaran tuntutan terkait penyelesaian isu-isu yang marak akhir-akhir ini. Entah ada gunanya atau tidak suaranya tetap lantang meneriakan keadilan dan perlindungan. Meski sebenarnya ia sadar deretan polisi yang menjaga atu bahkan tukang sapu jalanan pun tak menggubris apa teriakan nya, tapi setidaknya yang sedang tidur didalam gedung megah itu terusik hingga akhirnya memilih menutup telinga. Kadang memang perjuangan tak seperti yang diinginkan. Beginilah kompetisi kehidupan, yang sering disebut sebagai hukum alam.
***
Jam 14.00, Citra merebahkan tubuhnya disofa. Teriak-teriak seharian ternyata membuatnya cukup kelelahan hingga akhirnya tertidur. Ruangan kerjanya lumayan nyaman untuk beristirahat dan menghilangkan emosi sisa demo tadi.
Kantor ini adalah LSM yang begerak dalam wilayah-wilayah kerja advokasi dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Tak banyak yang merelakan waktunya untuk mengurusi kerja-kerja kemanusiaan tanpa kejelasan hidup seperti ini. Melakukan kegiatan dalam orientasi penolongan, namun hidupnya sendiri pun kadang tak tertolong.
Siluet mentari sore ternyata tak membiarkan Citra berlama-lama dalam mimpinya. Citra terbangun dan mengeliat menyamankan dirinya dalam lelah. Maka tak lama dari pintu seorang muda yang tampan dengan setelan kemeja dan celana necis berdiri meletakan helm sembari melepas sarung tangannya. Menghampiri Citra dan memberinya botol kecil berisi air mineral. Setelah lelah berdemo dan tertidur cukup membuat citra kehilangan ion tubuh dehidrasi. Maka tanpa sungkan diambilnya botol itu dan diminumnya hingga habis tanpa sisa.
Pria tampan itu mengusap sisa minum dibibirnya, dan kini citra terjaga seutuhnya dari tidurnya. Kantor terlihat sepi, artinya sudah diizinkan untuk mereka pulang dan meninggalkan kantor segera. Maklum terkadang penghuni lain kantor ini terlalu nakal jika hari mulai gelap dan kehilangan mentari.
***
Motor terparkir disebuah rumah makan. Suasana sore yang begitu ramai, ah! Iya ternyata hari ini weekend, pantas banyak pameran manusia menghiasi jalan dan antri demi mendapatkan waktu untuk menghantarkan mentari tenggelam diujung pantai. Kali ini masih Citra dengan tampilan yang lebih bak dari sebelumnya, mengenakan setelan jeans dan kaos creamnya, dengan sepatu cat andalannya yang manis, sangking manisnya mungkin semut pingsan lewat disampingnya. Citra bersama Pria tampan yang tetap saja menawan dengan setelan celana dan kemeja santai yang tetap rapi.
Satu minuman datang disambut dengan adegan romantic, dimulai dengan memandangi mentari yang mulai pamit undur diri dari sinarnya dan menyulap awan menjadi jingga kemerahan yang cantik. Dan ombak masih saja setia memecah sunyi yang merdu dan menawan dengan buih-buihnya yang terdampar dipasir menyandung bebatuan pinggir pantai.
***
Pukul 22.00, masih saja setia dengan rapat dan masih saja berdialektika dengan isu-isu yang setia mengusik aktivis perempuan ini. Ada yang kurang sepertinya, sang orator demo ternyata dicari karena belum menampakan batang hidungnya juga sampai selarut ini. Sigap saja salah satu diantaranya mengambil HP dan memeriksa keberadaan temannya yang ditunggu tersebut.
***
Dilain tempat HP diangkat. Mengiyakan, lantas berlalu kesebuah tempat yang menunggu kedatangannya sedari tadi.
***
Tak lama kemudian Citra telah berada di depan kantor. Citra masuk lalu beberapa saat kemudian kemarahan-kemarahan kecil menyambut kedatanganya.
Seorang yang sedang asik membaca buku menghempas bukunya sesaat melihat kedatangan citra. “Kemaren teriak-teriak ama koruptor. Sekarang dia sendiri yang ngorup waktu! Gak konsisten lu!”
“Ya, maaf. Aku ada urusan tadi, nggak sempat ngabarin.” Mukanya terlalu melas untuk mengakui kesalahannya.
“Ya udah, kita mulai rapatnya!“ salah seorang bijak menenangkan yang lainya. Sepertinya dia yang dituakan dalam kelompok itu. “Citra, ini untuk yang kesekian kalinya kamu buat temen-temen ketiduran Cuma untuk nunggu kedatanganmu dalam rapat. Kamu nggak boleh egois begini. Kerja kita sama-sama. Kalo memang nggak nyaman, meding ngomong deh!” kali ini lebih meggambarkannya seperti pemimpin kelompok dengan ketegasannya.
“Iya-iya. Maaf!”                                                                           .
            Sepertinya memang lebih baik mengalah dalam situasi seperti ini. Citra duduk dan mencoba menyampaikan permohonan maaf aas keterlambatannya dengan wajah memelasanya yang tetap manis, menolak kemarahan yang lain.
Dan rapat dimulai. Tak lama berselang dalam keseriusan rapat, HP Citra berbunyi segera kemudian mengusik Focus Forum yang ada. Dan lagi-lagi Citra jadi perhatian sesisi ruangan.
Diambilnya HP, dan dibuka message yang masuk. Dari yang ternyaman: “sayang, kamu sudah tidur. Jangan lupa berdoa ya sebelum tidur. Love you!”
Forum mendadak rusuh dan heboh. Teman perempuan yang duduk disebelah Citra ternyata membaca sms yang masuk dan meneriakan kepada teman-temannya yang lain. Dan sukses Citra jadi bahan lelucon malam ini.
Perempuan berjilbab diujung berseloroh akhirnya “Citra! Kamu itu aktivis perempuan! Pinter, cerdas dan cantik. Kok mau-maunya gitu lho pacaran sama tukang marketing yang gag ngerti gerakan.”
Dan semakin heboh ruangan itu jadinya. Yang disindir hanya senyum dan diam tenang mendengar ejekan teman-teman lainnya.
THE END


by : Siami Maysaroh

0 komentar:

Posting Komentar